You Are Your Very Own Greatest Teacher

May 5, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi pembaca Muslim dan mohon maaf lahir batin untuk semua. Mudah-mudahan waktu yang dihabiskan bersama orang-orang tercinta dipenuhi obrolan asyik, ungkapan sayang dan dorongan tulus terhadap satu sama lain. Ini harapan dan doa setelah membaca sebuah email panjang lebar yang saya terima sehari setelah Lebaran pekan lalu. Pengirimnya seorang remaja yang baru lulus SMA (Sekolah Menengah Atas) atau SMTA – atau entah apa nama persisnya sekarang menurut Departemen Pendidikan. Email curhat tersebut berisikan cerita mengenai kisah hidup, hubungan dengan ortu dan minat penulisnya akan musik, seni dan komik.

Remaja tadi menuliskan kalau keinginan untuk melanjutkan pendidikan sesuai dengan minatnya tidak didukung oleh orang tua karena berlawanan dengan hasil rekomendasi test kepribadian berdasarkan sidik jari. Pada paragraf akhir email tadi, remaja ini minta agar saya bicara pada orang tuanya untuk menjelaskan konsep passion. Utamanya, agar dia dibiarkan menempuh bidang-bidang yang menjadi minatnya – dan bukan sekedar bakat yang ditentukan oleh tes kepribadian. Saya terhenyak setelah membaca email tadi. Bagaimana mungkin sebuah test kepribadian bisa jadi penentu mutlak masa depan seseorang? Apakah benar rekomendasi yang diberikan para ahli secara langsung atau melalui instrumen tertentu punya tingkat kesahihan lebih tinggi dibandingkan dengan semua yang dipikirkan dan dirasakan si empunya hidup? Bagaimana menurut anda?

We are all unique – Human personality can’t be reduced into 4, 8, 12, 16 or more categories. Saya yakin tidak ada satupun orang tua waras yang menginginkan hal buruk terjadi pada masa depan anaknya – termasuk juga orang tua remaja tadi. Sebaliknya, mereka pasti menghendaki segala hal yang terbaik. Salah satu upaya yang ditempuh adalah dengan mengurangi unsur ketidakpastian dalam kepribadian, kehidupan dan masa depan si anak. Test kepribadian dengan berbagai bentuk dan variasinya bisa jadi membantu memberikan sekilas gambaran tentang beberapa aspek kepribadian & kecenderungan berperilaku, namun sama sekali bukan gambaran menyeluruh selengkapnya. Ini pendapat saya pribadi lho.

You are not alone in the uncertainties in career, business & life. Manusia sewajarnya menghendaki segala sesuatu yang mudah. Tentunya lumrah saja. Namun belum tentu semua yang mudah adalah benar. Tidak ada kepastian akan masa depan. Tidak ada yang bisa tahu apa yang akan kita rasakan kelak kecuali saat kita merasakannya sekarang. Kenapa masih saja mencari kepastian untuk sesuatu yang tidak bisa pasti?

It’s time to go where most personality tests fail to take us. Begitu banyak piranti telah ditawarkan untuk memberi pemahaman sedikit lebih baik mengenai diri sendiri terkait dengan kerja, karya & kreasi. Sebuah bidang ilmu bernama prenology pernah merajai dunia tes kepribadian pada abad 19 hingga awal abad 20. Jangan ketawa saat saya sampaikan kalau prenology mendasarkan rekomendasinya dari bentuk, ragam dan ukuran kepala seseorang serta tatanan wajahnya. Berdasarkan test ini seseorang bisa saja ditolak jadi dokter atau lawyer karena bentuk kepalanya tidak sesuai. Silahkan google sendiri kalau tidak percaya.

Saya sepenuhnya percaya bahwa tidak ada guru yang lebih handal untuk memahami diri selain diri sendiri. Saya lega pendapat ini juga dimiliki oleh dua sahabat saya @onlyricky & @elsachristine yang tengah merampungkan buku untuk menjembatani kebutuhan orang tua dan anak. Semoga buku ini lekas tuntas. Mungkin pertanyaan yang harus dijawab sekarang adalah ini: Are we living a life based on what the experts / the tests show us – or are we living a life that truly matters for us? Jawaban atas pertanyaan ini adalah refleksi sesungguhnya hidup kita. Dictum Sapienti sat est. Dies Felices!

Tulisan Kolom UltimateU Koran Kompas tanggal 2 Agustus 2012
Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: instagram #LingkarNagreg dari @agikopie