PLEASE STOP. Stick & Carrot DO NOT work!

April 27, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Mau tahu pertanyaan yang selalu muncul dalam hampir setiap kesempatan berbicara di hadapan para pemangku amanat perusahaan? Versi pendeknya kurang lebih begini: Apa yang bisa dilakukan atasan dan/atau organisasi untuk meningkatkan kinerja anak buah / karyawan? Versi panjangnya bisa beragam, seperti ini contohnya: “Semua aturan main, penalti, bonus dan insentif sudah ditetapkan, kenapa masih saja kinerja para pekerja pas-pasan?” Atau dalam bentuk lain: “Dorongan, ancaman, larangan, pegangan dan pedoman apa lagi yang bisa dilakukan oleh organisasi agar karyawan berkiprah? Sepertinya segala cara sudah dilakukan namun hasilnya tetap biasa saja. Kenapa tawaran insentif ditanggapi dingin-dingin saja? Apakah ancaman turun pangkat, potong gaji dan lainnya sudah tidak menakutkan lagi? Nah, apakah anda juga mempertanyakan hal serupa terhadap team anda, anak anda atau mungkin para pembantu di rumah?

Alinea diatas adalah ilustrasi prinsip tongkat dan wortel – bisa jadi sebuah wisdom yang diangkat sejak zaman dahulu kala saat belum ada kendaraan bermotor dan moda transportasi modern lain. Perhatikan saja bagaimana para sais kereta berkuda (entah apa nama persisnya di daerah anda) memastikan kudanya bekerja. Tongkat – atau pecut difungsikan agar si kuda tidak melakukan hal-hal yang tidak dikehenaki sang sais. Dan wortel – atau makanan diperuntukkan agar si kuda melakukan lebih banyak hal-hal yang disukai. Cukup logis dan masuk akal… hingga logika yang sama dijadikan basis dalam memastikan kinerja manusia dalam organisasi. Mendadak ceritanya berbeda.

The stick gets bigger, the carrot gets smaller. Pendekatan “tongkat dan wortel” tidak berjalan untuk manusia. Lebih buruk lagi, perspektif ini semakin hari semakin mengakibatkan pengaruh yang bertolak belakang. Tongkat tidak lagi menakutkan, bahkan memunculkan pemberontak. Wortel tidak lagi mengasyikkan, justru mengundang para penjilat yang sangat ahli membuat atasan merasa senang namun sama sekali tidak berkinerja. Problemnya, masih terlalu banyak organisasi yang terus percaya dan menggunakan pendekatan ini.

Break the stick, throw away the carrot. Sebuah penelitian komprehensif dari MIT (The Massachusetts Institute of Technology) terhadap seluruh karyawan Bank Sentral Amerika Serikat beberapa waktu lalu memberi dua rujukan menarik tentang cara pandang tongkat dan wortel. Pertama, pendekatan ini hanya berjalan untuk pekerjaan yang tidak menggunakan kemampuan intelektual dan imajinasi pekerja. Sehingga apapun yang mekanikal dan berulang masih bisa dipengaruhi oleh pendekatan tongkat dan wortel. Kedua, saat pekerjaan membutuhkan kemampuan intektual, imajinasi dan independent thinking – walaupun sedikit – akibatnya justru kebalikannya.

Why culture matters so much more than everything else. Pernah dengar Zappos? Sebuah organisasi perintis e-commerce yang bertumbuh kembang dalam waktu satu dekade hingga mencapai nilai milyaran dollar atas dasar 2 hal semata: Budaya organisasi yang keren & passion para penggiat dan semua karyawannya. Apa hasilnya? Kinerja luar biasa setiap karyawan. Perputaran tenaga kerja yang sehat. Dan yang terpenting: Perasaan happy yang menular ke seluruh anggota organisasi, pelanggan dan semua yang bersentuhan dengan Zappos. Oh, soal profit mereka termasuk dalam salah satu perusahaan paling menguntungkan di dunia.

Pembahasan ini butuh dilanjutkan dalam tulisan minggu depan. Namun penting untuk dicatat bahwa perusahaan seperti Zappos secara sadar meninggalkan pendekatan tongkat dan wortel sedari awal. Kenapa? Karena sudah terbukti tidak berjalan. Jadi apa yang bisa dilakukan? Ada 3 hal penting yang bisa dilakukan oleh setiap organisasi untuk mencapai kinerja dahsyat: Pertama, pemahaman soal higher purpose – atau impact, bukan sekedar profit bagi organisasi. Kedua, relevansi passion dalam mencari believers. Terakhir, keberanian memberikan otonomi untuk mencapai kepiawaian pada setiap anggota organisasi. Anda berani? Kita bahas lebih lanjut minggu depan. Tulisan ini saya tutup dengan ungkapan menarik dari Tony Hsieh, pendiri Zappos: “Delivering happiness << this is the pat to profits, passion & purpose. Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID Photo: #StrawberryLove by @KardinalMelon

  • Artikel yang sangat menarik sekali.