Awesome Culture Begins with Recognition & Happiness

April 27, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Tulisan kali ini melanjutkan pembahasan minggu lalu tentang prinsip stick & carrots yang masih saja dijadikan sebagai pedoman pada banyak organisasi dalam mengelola sumber daya manusia mereka. Paradigma yang berpotensi menyesatkan ini terbukti hanya relevan untuk pekerjaan & pekerja yang tidak membutuhkan kemampuan intelektual & imajinasi. Ini bukan pendapat pribadi lho, namun melalui sebuah riset mendalam yang dilaksanakan oleh MIT (The Massachusetts Institute of Technology) beberapa waktu terhadap seluruh karyawan Bank Sentral Amerika Serikat.

Paradigma stick & carrots hanya akan memunculkan budaya transaksional – semua soal jual beli dimana waktu, kebisaan & keahlian menjelma jadi sekedar komoditas belaka. Bekerja karena dibayar – atau takut tidak dibayar. Bekerja lebih lama karena dibayar lebih banyak – atau ngeri dipecat. Bekerja sekedar kewajiban, keharusan dan keterpaksaan – tanpa kesukaan, kelegaan dan keasyikan. Lebih jauh lagi, cara pandang ini melatih orang dan organisasi untuk berorientasi jangka pendek. Apapun sah atas nama profit (baca: uang). Apapun layak ditempuh untuk memunculkan lebih banyak profit (baca: lagi-lagi uang).

Being truly happy at work will lead to good health, awesome performance and a happy life. Apa yang bisa dikerjakan oleh organisasi jika tidak lagi mau terpaku pada prinsip stick & carrots? Jawabannya bisa beragam dan apa saja selama dilandasi oleh niatan menjadikan tempat bekerja sebagai ajang berkarya yang menyenangkan bagi seluruh anggota organisasi. Pada tulisan minggu lalu saya bercerita soal Zappos yang mengusung & menjalani motto “delivering happiness” – sebuah prinsip yang bertanggung jawab menjadikan Zappos sebagai tempat kerja paling asyik sekaligus organisasi paling menguntungkan. Kali ini saya sampaikan juga bahwa berdasarkan kajian Gallup Organization, tercetus bahwa pekerja yang tidak puas, tidak happy dan tidak engage telah “merugikan” ekonomi Amerika Serikat tahun 2014 sebesar USD 350 milyar.

Happy employees are the engine of growth, innovation and continuous improvement. Membentuk budaya bukan perkara sulit namun jelas butuh waktu yang tidak pendek. Budaya dibentuk dari nilai-nilai (values) yang benar-benar dipahami, diyakini & dihidupi oleh para pendiri, pemimpin dan orang-orang paling senior dalam organisasi. Nilai-nilai akan jadi penentu arah (direction) dan kegairahan (drive) dalam setiap keputusan dan langkah yang diambil oleh organisasi. Secara umum ada beberapa komponen penting dalam upaya menumbuhkembangkan budaya yang asyik dan memberdayakan:

Pertama, kelaziman saling memberi apresiasi atas kebaikan, kinerja dan kontribusi antar sesama anggota organisasi. Tidak sekedar atasan mengapresiasi bawahan namun juga sebaliknya, antara sesama karyawan, antar unit dan departemen. Tidak hanya untuk urusan pekerjaan namun juga dalam setiap interaksi sosial.

Kedua, kebahagiaan akan lebih mudah dirasakan jika setiap anggota organisasi memahami makna dan peran pada dunia sekitar. Lagi-lagi tidak sekedar urusan kinerja finansial, namun jauh lebih luas dari itu: impact kehadiran organisasi bagi masyarakat, bangsa dan dunia.

Ketiga, integrasi antara pekerjaan dan kehidupan. Bukan sekedar mengejar keseimbangan dari segi waktu, namun juga energi.

Keempat, kesempatan merasakan hal-hal baru & mengembangkan kepiawaian pada bidang-bidang lain – terlebih segala hal terkait dengan passion masing-masing individu.

Terakhir, peraturan, pengaturan, prosedur, pedoman & desain yang memandang manusia sebagai manusia seutuhnya, bukan sekedar sebagai pekerja, alat ataupun aset. In the end all we need is to be loved & respected.

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #ColorfulBaloon by @KardinalMelon