Craving for Happiness? Spend Your Money on Experiences, Not Things

April 13, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Siapa mau bahagia? Sudah pasti semua orang yang masuk kategori waras. Terlebih belakangan ini saat “sumbu emosi” yang sudah sedemikian pendek dan begitu mudah tersulut oleh hal-hal paling remeh sekalipun. Sebut saja beberapa faktor seperti kemacetan lalu lintas sepanjang hari (dan malam), panasnya terik matahari hingga kegaduhan politik yang seolah tanpa akhir. Jika begitu banyak hal bisa jadi pemicu ketidakbahagiaan, apa yang bisa dilakukan untuk meraih kebahagiaan?

Jika anda menjawab “uang!” maka boleh jadi jawaban anda baru setengah benar. Dalam sebuah riset klasik yang dilakukan oleh Angus Deaton & Daniel Kaheman di Amerika Serikat beberapa tahun lalu, tercetus bahwa sejumlah nominal uang yang diterima relevan sebagai pemicu kebahagiaan hingga satu titik tertentu. Nah, setelah melampaui titik tersebut, penambahan uang tidak lagi berpengaruh positif pada kebahagiaan – atau justru jadi pemicu ketidakbahagiaan. Titik tersebut secara rata-rata untuk konteks Amerika Serikat adalah USD 75,000 per orang per tahun. Sayang sekali saya belum menemukan riset serupa untuk Indonesia, namun bisa diperkirakan hasilnya tidak akan jauh berbeda dengan nominal rupiah yang disesuaikan tentunya.

Use things – love people, not the other way around. Dalam kajian lain oleh Dr. Thomas Gilovich dari Universitas Cornell, muncul perspektif tambahan yang mengaitkan antara uang dan kebahagiaan. Riset panjangnya menegaskan bahwa uang secara nominal tidak akan terlalu berpengaruh sebagai faktor pemicu bahagia, kecuali jika uang tersebut digunakan dalam porsi, dengan cara dan untuk memperkaya pengalaman, bukan sekedar membeli barang.

Money matters, happiness matters even more. Dengan kata lain, jumlah uang yang tercatat di rekening sama sekali tidak bisa dijadikan pedoman siapa yang lebih bahagia. Bisa jadi seseorang yang punya tabungan belasan juta lebih bahagia dibandingkan mereka yang menyimpan ratusan juta hingga milyaran. Tentunya dengan asumsi mereka tidak saling tahu jumlah tabungan masing-masing (baca: tidak saling iri) – dan wajib punya pengelolaan keuangan yang baik.

Use things – love people, not the other way around. Lebih jauh lagi, riset tersebut menunjukkan bahwa mereka yang menggunakan uangnya untuk “membeli” pengalaman cenderung akan lebih mudah merasakan bahagia dibandingkan dengan mereka yang sekedar membeli barang untuk dikonsumsi / digunakan. Barang sudah pasti punya wujud dan bisa dinikmati lebih lama dibandingkan dengan pengalaman yang nir-wujud dan hanya terjadi dalam satu waktu tertentu. Namun keasyikan (baca: kebahagiaan) menggunakan barang hanya terjadi saat pada tahap-tahap awal sebelum kita terbiasa punya barang baru tersebut. Beberapa waktu berselang setelah memiliki barang tertentu, keasyikan cenderung menurun bahkan hilang sama sekali. Jika tidak percaya coba ingat-ingat perasaan anda saat pertama kali membeli handphone canggih terbaru, televisi 54inch hingga mobil baru idaman. Sudah ingat? Sekarang coba bandingkan dengan perasaan anda terhadap barang-barang tersebut setelah 3 bulan, 6 bulan hingga 1 tahun.

We consume experiences directly with other people – Dr. Thomas Gilovich. Hal lain yang menjadikan pengalaman lebih berperan dalam kebahagiaan adalah interaksi dengan orang lain. Dua orang yang sama-sama pernah pergi ke Pulau Moyo, NTB akan merasakan keakraban – bahkan kekerabatan – jauh melebihi dibandingkan dengan dua orang yang punya gadget sama.

Apa yang bisa dilakukan sekarang? Sepenuhnya terserah anda. Tulisan ini bukan larangan membeli barang-barang idaman. Namun ada baiknya untuk setiap rupiah yang dialokasikan untuk membeli barang diimbangi dengan minimal lima rupiah untuk pengalaman. Itu jika anda ingin merasakan kebahagiaan lho. Experience teaches us what we want – and what we don’t want, what we expect – and what we don’t expect, what we love – and what we hate. After all, don’t cry because it’s over, smile because it happened – Dr. Seuss.

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #FrancyinAlor by @edwardsuhadi

  • enlighting! saya tergugah untuk berpetualang lagi setelah sekian lama vakum. terima kasih kaka renee

    • admin

      Nuwun Mbak Sari 😉