Why Retire When You are Living a Life that Truly Matters to You?

April 8, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Saya yakin anda pernah dengar atau bahkan menerima anjuran ini: “Segera lulus kuliah dengan IPK setinggi mungkin. Bergegas cari kerja di perusahaan besar. Kejar tangga korporasi hingga mencapai puncak karier supaya bisa hidup senang saat pensiun nanti…” Terdengar lazimkah? Apakah memang pensiun adalah suatu keharusan dalam kehidupan profesional? Apa benar hidup senang baru bisa diperoleh nanti setelah pensiun? Dalam beberapa kesempatan berinteraksi dengan teman-teman muda dari berbagai kelompok, saya dapati kalau preferensi untuk bekerja sebagai pegawai negri atau pada perusahaan besar adalah agar dapat menikmati kehidupan pensiun nanti. Dengan kata lain, pertimbangan jaminan pensiun 40-50 tahun kedepan mengalahkan dorongan untuk berkiprah, berkarya dan berkreasi saat ini. Orientasi bekerja jadi sekedar untuk memitigasi resiko hidup ketimbang menjalani hidup yang benar-benar bermakna dengan segala macam resiko & konsekuensinya.

Obrolan ini sempat jadi bahan diskusi hangat saat syukuran buku #CJUpdate karya sahabat saya @yoris minggu lalu. Dalam kesempatan ini sang penulis buku mengundang beberapa orang muda keren untuk mengisi sampul #CJUpdate. Salah satu “cover boy” baru yang ditampilkan adalah sahabat lain, @RamyaPrajna. Dalam kesempatan itu Rama berujar bahwa cara pandang dirinya tentang pensiun telah berubah 180 derajad dibandingkan saat awal mulai bekerja. Kalau dulu Rama berharap bisa segera pensiun secepat mungkin, sekarang dia justru sangat menikmati kegiatannya sebagai pendiri dan pengelola sebuah usaha digital handal bernama ThinkWeb. Sekarang tidak terbesit sedikitpun keinginan untuk pensiun. Sebaliknya, bagi Rama pekerjaan = keasyikan. Berkreasi = wujud hidup bermakna.

Retirement is a choice. Life is a journey of discovering yourself. Pilihan untuk pensiun sewajarnya jadi pilhan masing-masing orang. Bagi saya penetapan usia pensiun antara 50 – 60 tahun di Indonesia sudah tidak lagi tepat. Seringkali karya terbesar seseorang justru bermunculan pada usia-usia tersebut. Pembuktian teori relativitas umum oleh Albert Einstein baru terjadi saat beliau menginjak usia 50 tahun. Pembuktian ini juga mengantar pada penemuan-penemuan hebat lain dalam kehidupan Einstein.

A meaningful life is when you know what the world most needs from your existence. Perlu cerita lain? Nelson Mandela jadi Presiden berkulit hitam pertama di Afrika Selatan saat berusia 76 tahun. Kehidupan penuh karya & kreasi tidak ditentukan oleh usia namun oleh kenikmatan bekerja, kepedulian untuk memberi solusi atas problem-problem yang dihadapi dunia.

Know your secret yearning, and you’ll find joy. Ignore it – and all you have is sorrow. Bagaimana jika sudah tua dan renta? Saya punya dua orang ayah yang sudah menginjak usia 80an. Keduanya tidak secepat, sekuat atau setajam dulu – namun mereka masih asyik, peduli dan bersemangat. Ayah saya yang orang Jawa masih rajin menulis dan sudah menuntaskan buku “Rajawali Laut” bersama teman-teman seperjuangannya. Sementara ayah Filipino saya masih rajin mengajar dan memberikan advokasi keuangan. Mereka tahu persis apa yang menjadi minat & kerinduan mereka.

Tulisan ini bukan ajakan untuk tidak mempedulikan pensiun, namun sekedar colekan untuk memikirkan ulang cara pandang mengenai konsep pensiun. Kenapa harus berpikir hidup tenang & senang hanya terjadi saat pensiun? Hidup senang terjadi saat menjalani kehidupan yang benar-benar bermakna bagi empunya. Hidup tenang adalah saat menyadari arah kehidupan yang dipilih. If you spend all your time preparing for the future, when the future finally comes, you’ll find it far less satisfying than you had imagine. Homo doctvs is se semper divitias habet.

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID

Photo: instagram #BambooForest dari @didinu