Skill to Acquire New Skills

April 6, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Anda lulusan perguruan tinggi? Atau lebih lengkap lagi, apakah anda lulusan perguruan tinggi terkemuka dari jurusan paling diminati dengan nilai paling mumpuni? Bisa jadi gelar Sarjana, Master atau bahkan Doktor sudah anda miliki. Jika jawabannya “ya” maka anda termasuk dalam 9% kelompok minoritas dari total angkatan kerja Indonesia yang berjumlah sekitar 127 juta jiwa. Secara proporsi statistik anda beruntung – dan diuntungkan dengan memiliki gelar pendidikan tinggi. Saya belum menemukan data perbandingan rata-rata pendapatan antara lulusan SMA versus mereka yang menempuh perguruan tinggi di negara kita. Namun jika menggunakan data serupa dari Amerika Serikat perbedaannya lumayan kontras: Secara rata-rata, seorang lulusan Sarjana akan mendapatkan US$ 2.1 juta seumur hidupnya, sementara lulusan SMA hanya mendapatkan sedikit lebih dari separuhnya yaitu US$ 1.2 juta. Bagaimana dengan mereka yang bergelar Master dan Doktor – angkanya bisa mencapai US$ 4.4 juta untuk sepanjang usia mereka.

Itu gambaran indahnya jika jadi lulusan perguruan tinggi dari dan di Amerika Serikat. Bagaimana dengan Indonesia? Bisa jadi sejalan walaupun saya rasa tidak akan sekontras itu – ditambah dengan fakta mengejutkan bahwa prosentase lulusan Sarjana menganggur ternyata lebih besar dari lulusan SD hingga SMA. Lengkapnya lulusan sarjana yang menganggur dibandingkan dengan total lulusan sarjana adalah sekitar 11.7% berbanding prosentase pada lulusan SMA 7.7%, SMP 4.1% dan SD 2.1%*. Jika benar demikian tidak mengherankan kajian BCG (the Boston Consulting Group)** membeberkan gap antara demand dan supply posisi manajemen madya pada rata-rata organisasi di Indonesia untuk tahun 2020 bakal jadi 56%. Oh, maksudnya jumlah permintaan lebih besar daripada supplynya. Sungguh ironis bahwa semakin bertambahnya jumlah lulusan perguruan tinggi tidak serta merta dibarengi kesiapan mereka untuk bekerja, berkiprah – apalagi berkarya dalam berbagai bidang.

Skill to acquire new skill is about having the knowledge on how to improve. Apa yang bisa dilakukan sekarang? Salah satu problem terbesar lulusan perguruan tinggi adalah tidak dimilikinya keahlian untuk memperoleh keahian baru. Tanpa disadari, apapun yang dipelajari di kampus hampir pasti sudah tidak lagi relevan dengan perkembangan dunia usaha. Tidak ada ilmu yang percuma, namun jika tidak ditumbuh-kembangkan, ilmu bakal jadi tidak relevan.

Learning new skills require extreme commitment – from you! Banyak ilmu-ilmu praktis yang hampir pasti akan berperan dalam dunia kerja dan dunia usaha. Sebut saja keahlian mengelola project dengan anggota team tersebar di pelosok nusantara. Apa lagi? Keahlian mengekspresikan diri dengan efektif didepan publik (bukan sekedar public speaking). Lagi? Kemampuan membangun hubungan melalui percakapan bermakna. Kebisaan observasi, hipotesa dan eksperimentasi. Dan seterusnya. Ini bukan lagi pilihan, namun keharusan.

The ability to evaluate the process and & results. Bagaimana caranya? Pertama, tentu butuh komitmen jelas kenapa merasa harus menguasai satu keahlian baru. Kedua, siap mengalokasikan waktu dan energi untuk menjalani prosesnya. Ketiga, minta bantuan coach / guru untuk menjalani proses dengan benar. Kehadiran mereka adalah untuk memberi umpan balik atas setiap langkah penting dan memberi masukan cara-cara menjadi lebih baik, lebih cepat dan lebih efektif.

Terakhir, tidak ada cara lain yang lebih efektif dalam menguji keahlian / kemampuan / kebisaan baru selain dari menjadikannya secara integral kedalam proses kerja, kreasi dan karya. Tidak seperti proses belajar di sekolah atau kampus konvensional yang memberikan sertifikasi atau ijazah, validasi atas keahlian baru langsung diperoleh dari keasyikan mempelajarinya, feedback para coach / guru dan reaksi atas karya yang dimunculkan. In a fast moving, competitive world, being able to learn new skills is one of the keys to success. It’s not enough to be smart – you need to always be getting smarter.” – Heidi Grant. And the first thing you need to do is just to begin.

* http://bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=06&notab=4
** The Boston Consulting Group: Growing Pains Lasting Advantage, May 2013

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #JamaicanBlue by @captairuby