The Day All Changes

March 30, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Awal minggu ini saya diundang mampir ke kantor teman yang baru saja selesai direnovasi. Jika masih ingat tulisan minggu lalu tentang “imagining future organizations” – saya membayangkan kantor yang tidak jauh berbeda dengan kantor sebelumnya. Normatif. Konvensional. Formal. Birokratis. Membosankan (untuk saya). Apalagi teman saya ini bekerja untuk salah satu perusahaan telekomunikasi besar yang dulu dikenal sebagai perusahaan pelat merah.

Walhasil saya kaget juga setelah melewati pintu lift dan bagian lobby yang masih ditata dengan gaya jadoel. Kantornya open space – tanpa cubicle, tanpa sekat kecuali beberapa ruang meeting yang dibatasi oleh kaca tembus pandang. Penuh warna-warni cerah menggantikan ruang dengan warna monoton yang seringkali membuat pikiran jadi baal. Dan yang paling menarik perhatian adalah interaksi seru diantara orang-orang yang bekerja disana: Ada yang bekerja didepan laptop sambil mengenakan earphone, ngobrol santai sambil ndelosor di pojokan dan makan-minum di tempat lain (diluar jam makan siang). Sungguh pemandangan yang jauh berbeda dengan rata-rata organisasi yang masih jadi bagian dari cubicle nation. Oh, saat mengelilingi kantor tersebut saya berjumpa dengan Direktur HR yang duduk di salah work-station berdampingan dengan staff-nya. Tidak ada lagi ruangan khusus bagi Diretur, apalagi bagi para boss-boss kecil dibawahnya. Sambil tertegun saya berkata sendiri: Perubahan sudah datang. Semua sudah berubah.

The only certainty is that everything is uncertain. Jika dulu model kantor seperti ini hanya terjadi pada segelintir organisasi yang dihuni oleh pekerja kreatif dan media, sekarang telah – atau akan menjadi kelaziman baru. Dalam konteks workplace, bisa jadi perubahan ini menandai perubahan-perubahan penting lain yang tidak tampak namun signifikan.

People don’t change – they just grow or stagnate. Apa saja yang saya duga sudah atau paling tidak akan segera berubah? Banyak! A job for life – bekerja untuk satu organisasi seumur hidup. Pensiun usia tertentu untuk kemudian menikmati hidup. Keutamaan menduduki posisi puncak dalam perusahaan. Bekerja untuk organisasi besar lebih aman dan menjanjikan. Pendidikan tinggi menjamin keberhasilan. Belajar untuk gelar di sekolah / universitas – dan seterusnya. Not anymore. Tidak lagi demikian.

The right call is almost always painful – because it’s difficult. Boleh saja bersikeras mempertahankan cara pandang diatas… karena terasa nyaman. Namun jangan kaget saat suatu hari tersadarkan dengan kenyataan bahwa segala aturan main yang selama ini kita pahami, patuhi dan banggakan sudah tidak lagi relevan. Waktu telah bergeser. Dunia telah berubah. Interaksi tidak lagi seperti dulu. Organisasi telah berbeda. Dan lambang-lambang kesuksesan tidak lagi sama.

Kira-kira apa pengahalang utama dalam melihat perubahan yang telah, masih dan akan terus terjadi? Jawabannya bisa jadi muncul saat bercermin. Alasan bisa banyak dan selalu bisa dicari – mulai dari tidak punya uang, waktu, skill, kualifikasi atau apapun. Jika itu yang kita diyakini bisa jadi benar adanya. Sebaliknya, bisa juga meyakini ini: Kita semua sudah punya segala yang dibutuhkan untuk bertumbuh dan berkembang (bukan berubah) sesuai dengan kodrat kita. Tidak ada perubahan besar tanpa perubahan yang paling kecil seperti cara pandang tentang apapun. Sebelum menjatuhkan opini atas nama kelaziman seperti biasa, kenapa tidak menyimak lebih lama, mencerna lebih sabar dan memahami lebih bijak. Is there a better way to run your business, your organization, your work, your family, and your life? Be mindful. Your answer will give clue on who you are, how you grow – and where you will end up 

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #BightLight by @drewhopper