Imagining Future Organizations

March 18, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Organisasi. Salah satu penemuan terbesar manusia yang mampu mentransformasi manusia, bisnis, kehidupan bahkan peradaban. Hal-hal apa yang terlintas dalam pemikiran anda dengan satu kata ini? Bisa jadi langsung terbayang tempat kerja anda sekarang dengan sederet meja, kursi, ruang pertemuan dan seabreg perangkat yang masuk kategori kantor. Lazimnya, lokasi tempat kerja menentukan status dan slip gaji yang diterima. Jika duduk ditengah tanpa pemandangan selain rekan kerja biasanya diperuntukkan bagi para pegawai pada umumnya. Jika sudah lebih senior maka boleh menghuni cubicle lebih besar dengan satu sisi jendela untuk melihat keluar. Kantor sudut dengan dua sisi pemandangan hampir selalu diberikan pada orang yang dianggap paling penting pada lantai yang bersangkutan (baca: si Boss). Sementara Sang Boss besar mungkin saja menghuni area yang lebih luas dari rumah rata-rata orang Indonesia. Ya, cerminan tempat kerja adalah cerminan organisasi.

Dalam sudut pandang lain tentang organisasi, mungkin juga anda membayangkan struktur organisasi berbentuk piramida. Si boss besar menduduki posisi puncak, dilanjutkan dengan boss kecil, boss lebih kecil hingga mereka yang hanya punya boss, tanpa anak buah. Saya duga dua penggambaran organisasi macam ini masih sangat umum untuk periode sekarang tentunya dengan berbagai variasi dan kompleksitasnya.

The more things change – the more things stay the same. Apapun bentuk organisasinya, terdapat 3 pertanyaan mendasar yang harus diajukan (dan dijawab oleh para pemangku amanat dalam organisasi): Pertama, apakah rancang bangung organisasi yang dimiliki saat ini sudah memadai untuk pencapaian tujuan2 organisasi? Kedua, hal-hal apakah yang bisa dilakukan untuk menjadikan organisasi lebih tepat guna, relevan dan memberdayakan segenap anggotanya? Terakhir, seperti apa bentuk organisasi ini di masa depan? Apapun jawaban untuk ke3 pertanyaan ini, bisa dipastikan rancang bangun organisasi yang tidak tepat hanya akan berujung pada kemandegan – jika bukan keruntuhan organisasi.

If you wish to change the culture, then you need to change the organization. Sekarang coba bayangkan ragam jenis organisasi unik yang mulai bermunculan belakangan ini. Perhatikan bagaimana Apple, Google, Facebook, Amazon dan banyak organisasi berbasis teknologi dan berskala global menata dirinya. Rata-rata cenderung flat and bigger – atau dengan kata lain tidak birokratis, egaliter dan berorientasikan misi tertentu (bukan sekedar pencapaian target financial). Keberhasilan rancang desain organisasi ini ditandai oleh pertumbuhan super cepat sembari tetap menjaga relevansi mereka. Uniknya – dan sayangnya, organisasi terror macam ISIS terus mampu merekrut anggota-anggota baru – ini terjadi tanpa bentuk, pemimpin dan pengorganisasian yang jelas. Sehingga bisa jadi setiap pencapaian hebat butuh lebih dari sekedar perubahan normatif pada organisasi.

Walls are barriers, and my job is to remove them – Michael Bloomberg.
Apa bentuk organisasi masa depan yang paling sesuai? Saya tidak tahu persis – namun dalam sebuah obrolan menarik dengan Coach @ivandeva, teman seperjuangan – istilah untuk rekan berkarya di @ImpactFactory, tercetus 3 kata yang merefleksikan organisasi: Bersama, berkarya dan bermakna. Singkatnya, keistimewaan organisasi bukan soal berapa lama telah berdiri, atau sekedar besaran jumlah anggotanya. Sebuah organisasi menjadi istimewa saat berhasil menemukan, menyepakati dan menghidupi alasan kebersamaan. Pada tahap itu bakal muncul karya yang bermakna – bukan sekedar bagi pemilik atau segelintir pemimpin, namun untuk semuanya.

Perubahan sekecil apapun pada organisasi pasti akan berpengaruh pada banyak hal – bisa berakibat baik ataupun buruk. Namun tidak ada yang lebih buruk daripada sekedar menerima organisasi apa adanya dan berharap hal terbaik yang akan terjadi. We all have our ideas of what future organizations will look like. Perhaps we should learn what went wrong from the man who designed the cubicle.