Recruiting Believers!

March 9, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Coba tanyakan pada para pemilik usaha dan pemangku amanat di organisasi apapun tentang satu problem paling pelik yang tengah mereka hadapi saat ini. Saya duga 9 dari 10 akan menjawab “people” – alias mencari, menemukan, merekrut, mempertahankan dan mengelola orang-orang yang tepat untuk organisasi. Ya, mungkin ada yang menjawab iklim usaha, tapi apapun situasi yang terjadi tetap membutuhkan peran serta dan kontribusi karyawan handal dan mumpuni. Tidak ada terobosan bisnis tanpa orang-orang cerdas, tekun dan berani yang tidak mudah puas akan pencapaian wajar selama ini. Tidak ada pembaharuan proses tanpa kehadiran manusia-manusia peduli yang turun tangan. Tidak ada inovasi bermakna tanpa keikutsertaan insan-insan yang menawarkan kebaruan dan kekinian. Sayangnya, orang-orang seperti ini jarang, dan bisa jadi semakin jarang.

Seorang teman yang kebetulan mengelola program MT (management trainee) pada sebuah perusahaan multinasional raksasa mengeluh tentang semakin pendeknya masa kerja para MT yang dibina. Ujarnya: “Sejak 2-3 tahun terakhir hanya kurang 20% dari peserta MT yang tersisa saat memasuki masa kerja tahun ke 5.” Seorang kawan lain juga menyuarakan problem serupa saat harus berhadapan dengan tingkat keluar-masuk pegawai diatas 30% (artinya 1 dari 3 karyawan keluar dan harus diganti setiap tahun). Bisa dibayangkan kerugian yang harus ditanggung setiap kehilangan orang – dan harus mencari penggantinya.

Apa pengaruhnya pada kinerja organisasi dan industri? Dahsyat – atau mungkin lebih tepat jika disebut mengerikan. Sebuah riset dari Standard & Poor, sebuah biro pemeringkat di Amerika Serikat menunjukkan kalau rata-rata usia perusahaan yang tergabung dalam S&P 500 turun dari 60 tahun pada era 1970an menjadi hanya 15 tahun saat ini. Contoh lain? Produktivitas dan kinerja karyawan beberapa organisasi seperti Apple, Google, Amazon dan pemain besar teknologi telah jauh meninggalkan mayoritas organisasi lain. Dalam bidang pemerintahan dan politik juga tergambar bagaimana pemilihan orang-orang yang tidak tepat hanya akan berujung pada pemborosan, korupsi dan beragam kekisruhan lain.

Recruit BELIEVERS, not workers. John Mackey, CEO WholeFoods pernah menyampaikan kalau manusia bukan sekedar tenaga kerja, bukan cuma aset dan bukan hanya sumber daya. Manusia adalah SUMBER – sumber ide, sumber kreativitas dan sumber keberlangsungan untuk masa depan.

Believers are people who share your mission in life. Mencari tenaga kerja sebatas mencari pekerja untuk menuntaskan job description adalah resep terbaik untuk kinerja biasa-biasa saja. Bahkan jika salah pilih orang, hasil yang diperoleh bakal jauh dibawah biasa saja. Sebaliknya, BELIEVERS tidak akan tertartik bergabung jika hanya sekedar untuk gaji atau segala bentuk insentif lain. Mereka bergabung karena paham, percaya, yakin, mampu dan mau – dengan misi organisasi.

Organizations should have clarity beyond making profit. Semua bermula dari para pemangku amanat di organisasi (baca: CEO, Presiden, Menteri, Pejabat dan para pemimpin). Apakah sekedar mencari tenaga kerja untuk mengisi posisi tertentu – atau mencari rekan seperjuangan yang akan bertumbuh & berkembang bersama organisasi? Apakah bakal hanya bicara dalam bahasa transaksional, atau hal-hal yang lebih hakiki?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas akan menetapkan rancang bangun dan proses tumbuh kembang organisasi. Apakah hanya akan jadi organisasi ala kadarnya yang mudah goncang, bahkan tumbang oleh sedikit perubahan pada iklim usaha? Atau justru akan menjadi organisasi istimewa yang hadir dari idealisme para pendirinya untuk menjadikan bangsa, alam dan dunia jadi sedikit lebih baik? Employees don’t really care how much you know until they know how much you really care. In the end, you deserve all the people you recruited.

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #People by @EdwardSuhadi