Performance without Passion is Meaningless

March 2, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Beberapa waktu lalu saya baca komentar menarik seorang pejabat tinggi negara yang mengungkapkan kalau jumlah PNS (pegawai negeri sipil) terlihat banyak walaupun sebenarnya sedikit. Alasannya bisa jadi logis: Jumlah PNS saat ini tercatat 4.5 juta orang memang tidak seberapa dibandingkan total populasi penduduk Indonesia yang mendekati angka 250 juta jiwa. Sehingga rasio perbandingannya 1.83% – masih dibawah rasio negara-negara Asia lain, cetus sang pejabat.

Walaupun memahami logika berpikirnya, sangat sulit untuk tidak memperbandingkan dengan menggunakan perbandingan lain. Sebut saja Google, sebuah perusahaan yang tergolong masih belia dari segi usia (didirikan tahun 1998 atau baru berkiprah kurang dari 17 tahun) mencatatkan pendapatan tahun 2014 sebesar US$ 67 milyar – atau kurang lebih sekitar Rp. 900 trilyun dengan kalkulasi kurs sekarang. Jumlah ini hampir separuh dari APBN 2015 negara kita yang berjumlah sekitar Rp. 2.000 trilyun. Menariknya lagi, jumlah karyawan Google tercatat (hanya) sebanyak 50,000 ribu yang didedikasikan untuk melayani penggunanya di seluruh dunia. Dengan menggunakan data mentah jumlah pengguna internet di seluruh dunia yang diasumsikan sebagai pengguna Google maka para Googlers (karyawan Google) melayani 3 milyard orang.

Ya, saya paham mengurus negara tidak bisa dibandingkan dengan mengurus korporasi. Keduanya memang sangat berbeda. Namun ilustrasi ini paling tidak bisa memberikan perbedaan kinerja yang bisa dimunculkan oleh sekelompok orang – apakah dia tergabung dalam perusahaan atau organisasi berbentuk lain. Semoga masih boleh membayangkan seandainya kualitas pegawai negeri kita lebih baik atau paling tidak setara dengan kualitas para Googlers. Bisa jadi Indonesia menjelma jadi negara adi daya. Itu tidak perlu diragukan.

Passion without performance is nothing. Apa sebenarnya yang membedakan kinerja antara satu orang dengan lainnya? Faktor apa yang berpengaruh saat membandingkan kinerja 2 karyawawan yang punya usia sama, gaji sama, pendidikan sama, jabatan sama, tanggung jawab sama dan segala macam bentuk support system yang sama? Inilah esensi dari buku #Passion2Performance yang belum lama ini diterbitkan oleh @BukuKompas.

Performance without passion is meaningless. Tidak sekedar mengandalkan opini dan observasi pribadi, pertanyaan ini diujicobakan pada 11 industri dan 28 organisasi melalui proses panjang selama 1.5 tahun. Jawaban lengkapnya bisa dibaca di buku tersebut, ehm… (numpang promo), namun hal terpenting yang harus dipahami para pemangku amanat pada organisasi2 adalah ini: Kinerja hebat TIDAK terjadi dengan sendirinya. Kinerja hebat BUKAN berasal dari proses transaksional. Kinerja hebat BUKAN sekedar karena karyawan berpendidikan tinggi, punya IPK nyaris sempurna dan berbagai pertimbangan konvensional yang selama ini dipercayai.

Passion is the foot-prints of your mission. Kinerja hebat yang berkesinambungan – berdasarkan kajian #Passion2Performance ternyata diawali saat organisasi menganut keyakinan kolektif bahwa kinerja bukan sekedar angka di laporan rugi-laba, bukan sekedar profit, bukan sekedar peningkatan nilah saham perusahaan di bursa efek. Cara pandang ini menolak mentah-mentah konsep pilihan antara DO WELL atau DO GOOD. Keduanya bisa, mutlak, bahkan justru akan memberdayakan jika dipilih bersamaan: DO WELL dan DO GOOD.

Buku #Passion2Performance mengantar saya dan team penulis @ImpactFactoryID pada suatu keyakinan bahwa kinerja otentik organisasi adalah cerminan perjalanan tumbuh kembang setiap manusia yang tergabung didalamnya. Semakin selaras antara misi/values otentik organisasi (bukan sekedar jargon di halaman visi-misi) dengan misi/values para individu, maka bakal semakin hebat kiprah organisasi tersebut. Dan berkesinambungan. After all, above numbers, there is impact – of your presence, of your existence & of your peformance – @HandryGE.

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #P2PLego by @BennyRachmadin