Who We Are = What We Stand Up for…

February 23, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Saat masih duduk di bangku SD (Sekolah Dasar) puluhan tahun lalu saya tergolong mini. Maksudnya jika dilihat dari ukuran tubuh dibandingkan dengan teman-teman sebaya. Dan berhubung saya juga harus pakai kaca mata minus sejak kelas 3 SD maka kesan mini masih ditambah dengan kesan anak baik favorit para guru, namun ringkih. Dengan sosok seperti ini mudah dibayangkan saya kerap kali jadi sasaran para bully yang rata-rata berbadan lebih besar dan bergerombol. Ada dua pilihan yang paling sering ditempuh: ngumpet atau bergerombol dengan para kutu buku lain.

Kondisi serba sulit kala itu berubah seketika saat mendadak tampil seorang anak – perempuan pendiam yang juga ada di kelas kami. Dia berdiri membela saya dan para kutu buku lain saat tengah jadi bulan-bulanan. Dia berdiri sendiri menghadapi para bully tanpa rasa takut. Saya lupa apa yang diucapkan, namun saya ingat betul bagaimana ia mengucapkannya: dengan suara keras dan lantang. Aneh bin ajain, situasi jadi jauh lebih baik setelah itu, terbantu juga dengan keluarnya salah satu bully dari sekolah dan semakin PD (percaya diri)-nya kami para kutu buku. Belakangan saya tahu kalau anak perempuan tadi ternyata anak salah satu guru senior. Apapun itu, kepedulian dan keberaniannya untuk membela anak-anak yang lemah, termasuk saya, masih terngiang dalam benak saya hingga hari ini.

You don’t really care until you actually show it. Jika penyelamat di masa kanak-kanak saya mampu dan mau bertindak sesuai dengan kapasitasnya untuk kebaikan orang lain, bagaimana dengan kita sekarang? Berapa banyak diantara kita yang punya kesempatan untuk bisa benar-benar berbuat suatu hal nyata untuk bangsa ini – atau paling tidak untuk orang banyak – selain dari keluarga atau kelompok sendiri? Dan berapa banyak diantara yang punya kesempatan itu benar-benar menjalankannya dengan baik? Saya rasa jawabannya tidak banyak, bahkan cenderung terlalu sedikit. Mereka adalah orang-orang terpilih yang diserahi amanat untuk menjadikan kehidupan bangsa ini (sedikit) lebih baik. Mereka adalah para pemangku kepentingan bangsa dalam berbagai bidang yang telah diserahi kekuasaan untuk bekerja & berkinerja.

If you don’t stand for something, you’d fall for anything. Bagi saya, salah satu dari segelintir orang itu bernama Bambang Widjojanto, Wakil Ketua KPK yang belum lama ini diberhentikan sementara oleh Presiden Jokowi karena kasus lama yang seharusnya sudah tuntas namun diungkit kembali demi kepentingan kelompok tertentu. Kolom ini tidak tepat untuk membahas panjang lebar tentang perkara yang telah merembet jadi perkara nasional belakangan ini. Namun satu hal yang nyata, ada satu orang yang tidak segan meresikokan banyak hal untuk kebaikan banyak orang – dan bangsa. Dan dia, beserta orang-orang lain yang serupa dengannya, patut dibela.

Doing something requires only one thing: Doing something! Saya tidak terlampau kenal dekat dengan mas Bambang, namun dari beberapa kali interaksi saya bisa merasakan kepedulian otentik beliau dalam memperjuangkan pemberantasan & pencegahan korupsi. Bagi saya korupsi tak ubahnya seperti sekelompok bully kala masih SD yang bisa semena-mena karena punya kekuasaan & kesempatan. Sementara Bambang Widjojanto adalah penyelamat kecil yang berusaha berbuat sesuatu kala yang lain cenderung lebih sering mendiamkan.

Dalam kondisi seperti ini pertanyaan justru ditujukan kepada kita semua. Apakah masih akan terus diam? Apakah lebih baik memilih untuk tidak tahu – dan tidak peduli? Jawaban anda, saya dan kita semua akan menentukan proses tumbuh kembang bangsa ini. The whole society can move over into the dark side. The most awful acts don’t seem so bad when they become everyday occurrences. May God protect Bambang Widjojanto, KPK and the people of this great nation #SaveKPK.

Colek kami di twitter: @ImpactFactoryID
Photo: #SayaKPK by @ReneCC