Passion without Creation is Nothing

February 16, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Sekitar 5 tahun lalu saya menerbitkan buku dengan judul “Your Job is Not Your Career.” Niatnya untuk mendudukkan pekerjaan dan karier pada porsinya masing-masing. Maklumlah, kala itu terlalu sering obrolan tentang sukses dikaitkan semata dengan jabatan mentereng, uang berlimpah dan berbagai macam lambang-lambang kesuksesan lain. Seolah semua orang harus jadi CEO, punya mobil Eropa minimal 3000cc dan tinggal di rumah seluas lapangan bola jika ingin disebut sukses. Dalam rangka memunculkan perspektif alternatif, melalui buku itu saya menempatkan pekerjaan sebagai instrumen berkarya, alat milik organisasi yang dititipkan pada individu untuk memenuhi obyektif organisasi. Dengan demikian pekerjaan punya batas relevansi dan kadaluarsa yang harus dipahami oleh empunya. Pekerjaan membuka obrolan tentang jabatan, gaji, job description, kartu nama, kantor dan seterusnya. Pekerjaan memang penting, diantara sekian banyak hal penting lain dalam hidup, namun tidak harus dipenting-pentingkan.

Sementara karier adalah totalitas perjalanan kehidupan profesional seseorang. Dalam karier, manusia idealnya akan terus bertumbuh dan berkembang untuk mendekatkan diri dengan kesempurnaan fitrah – atau misi hidupnya. Siapapun bisa dipecat dari pekerjaannya, termasuk CEO, Menteri, Kapolri atau bahkan Presiden sekalipun. Namun tidak seorangpun bisa dipecat dari kariernya. Sukses dalam karier tidak lebih sebagai perjalanan menuju diri sendiri yang lebih baik – setiap tahun, setiap hari, setiap saat.

Jika masih sulit dipahami, coba bayangkan pekerjaan sebagai peran yang dimainkan seorang aktor / aktris dalam sebuah film. Sebuah peran bakal relevan bagi sang aktor hanya dalam film tersebut. Dan satu peran yang dijalankan dengan baik akan mengantar pada peran-peran lainnya.
Karier adalah totalitas kehidupan profesional sang aktor / aktris tersebut. Tidak ada peran yang terlalu kecil atau tidak penting – yang ada hanya aktor / aktris yang sekedarnya.

Passion is not what you’re good at – it’s what you enjoy the most. Buku Your Job is Not Your Career merekomendasikan pemahaman karier dengan memaknai passion dan mission dalam bekerja, berkarya & berkreasi. Namun belakangan saya perhatikan banyak diskusi tentang passion yang kebablasan. Seolah-olah tidak ada hal lain yang penting selain passion. Dan apapun dimaafkan atas nama passion, termasuk saat tidak menafkahi keluarga, pindah-pindah kerja bagai kutu loncat hingga tidak hormat pada orang tua.

Passion without creation is nothing. Nah, melalui buku terakhir yang baru saja diterbitkan dengan judul #Passion2Performance, saya dan sahabat-sahabat @ImpactFactoryID berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Passion adalah anak tangga awal kehidupan yang asyik, berdaya dan bertanggung jawab. Kenapa? Karena saat mengawali passion, siapapun akan dibisakan, dimampukan, ditabahkan, dikuatkan, disabarkan dan diberdayakan. Ada juga jawaban atas pertanyaan dari korporasi yang akan saya sampaikan dalam tulisan minggu depan.

Passion brings renewable energy to create. Passion terletak pada segala aktivitas yang membuat diri merasa berdaya. Kata kunci pertama adalah kata “aktivitas” – pekerjaan atau profesi adalah “judul” dari sekumpulan aktivitas. Sehingga sungguh absurd saat mendengar seseorang mengatakan kalau passion-nya adalah jadi entrepreneur. Ada beberapa aktivitas dalam pekerjaan yang asyik, sangat bisa dinikmati… dan memberdayakan. Sebaliknya, ada aktivitas lain yang menyedot energi, tanpa kesan bahkan sebisa mungkin dihindari.

Kebisaan, keahlian dan kepiawaian adalah rentetan dari proses panjang yang diawali dari passion. Dan hanya dalam kepiawaian akan muncul karya & kreasi yang bermanfaat bagi orang lain, bangsa dan alam semesta. Selamat melanjutkan diskusi tentang passion, namun lebih penting menindaklanjutkannya dengan diskusi tentang karya dan kreasi.
With passion, we pray. With passion we make love. With passion, we eat & drink & dance & play. Why look like a dead fish this ocean of God? – Jalaludin Rumi.

  • ridlo

    Jika memang passion menjadi acuan, hal pertama apa yang akan mendekatkan kita dengan passion kita?

    Kadang namanya hidup tidak bisa dianggap hanya karena passion, namun kebutuhan yang penting dan passion akhirnya tidak ada dalam hidup kita. #pesimis

    • admin

      Hi Mas Ridlo,
      passion penting, namun karya lebih penting. Karya yang membuat kita merasa berdaya di itu yang harus dicari dan terus dilakukan.
      BERKARYA.BERMAKNA.BERSAMA