You Eat What You Kill

February 9, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Selain kekisruhan dunia politik dan percekcokan lembaga penegak hukum, ada kehebohan lain yang terjadi awal minggu ini. Pemicunya usulan @AhokBTP, Gubernur DKI yang berniat menaikkan gaji PNS (Pegawai Negeri Sipil) DKI Jakarta. Bukan soal naik gaji belaka, namun besaran kenaikan yang banyak disorot karena konon jumlahnya memang signifikan. Lurah bisa memperoleh gaji hingga 24 juta. Camat 35 juta serta seabreg jabatan lain dalam lingkup Pemda DKI.

Saya termasuk awam soal struktur penggajian PNS, namun kalau melihat reaksi yang muncul boleh jadi memang kenaikan yang diusulkan jauh lebih besar dari gaji PNS saat ini. Seru – dan geli juga membaca komentar-komentar yang muncul, salah satunya ini: “Huh! Apakah ada jaminan PNS akan lebih produktif saat gajinya dinaikkan secara fantastis?” atau “Wah, dengan gaji sebesar itu, profesi PNS bakal jadi paling diminati di bursa kerja.” Hingga komentar tidak terlalu penting seperti ini “Bagaimana nasib dunia usaha kalau semua bibit entrepreneur lebih memilih jadi PNS dengan gaji gede.” Bagaimana menurut anda?

Stop being overly transactional in career, business and life. Bagi saya besar atau kecil relatif saja. Angka Rp 500,000 untuk anak SD bisa jadi jumlah luar biasa untuk beli jajanan yang diinginkan. Angka Rp 500 juta mungkin saja mengecewakan bagi seorang banking yang telah mengharapkan bonus tahunan dengan besaran milyaran rupiah.

You eat what you kill. Kenaikan yang diusulkan Ahok – bagi saya – tidak istimewa jika hanya dilihat dari jumlah kenaikan semata. Seorang Lurah yang bertanggung jawab mengelola ratusan hingga ribuan kepala keluarga, secara efektif sebenarnya bertanggung jawab atas pelayanan (baca: keamanan, ketentraman & kebahagiaan) belasan ribu hingga puluhan ribu penduduk. Seorang Camat bisa dipastikan punya tanggung jawab jauh lebih besar, lebih luas dan lebih banyak – katakanlah puluhan hingga ratusan ribu. Sebuah bank kelas kecil hingga menengah punya karyawan setara dengan jumlah kepala keluarga dalam sebuah kelurahan. Dalam perbandingan ini, kenapa harus heran dengan pendapatan puluhan juta Pak Lurah atau Pak Camat saat kompensasi pemimpin bank bisa mencapai ratusan juta?

Great money follows great works. Always! Hal istimewa yang diusulkan oleh Gubernur Ahok adalah prinsip penilaian berdasarkan kinerja. Semakin bagus kinerja, semakin besar kompensasi yang bisa dinikmati. Hal ini sudah sangat lazim terjadi pada dunia swasta dan bisnis. Penting untuk dipahami bahwa seorang Lurah / Camat / PNS yang bakal punya gaji besar tersebut juga berpotensi kehilangan jabatan atau bahkan pekerjaan, jika mereka gagal memenuhi standar minimum yang diisyaratkan. Kejam? Tidak juga. Ini peluang bagus bagi mereka yang ingin sungguh-sungguh berkontribusi dan mekanisme pencucian organisasi paling efektif bagi mereka yang hanya ala kadarnya atau bahkan bekerja tanpa niat selain menikmati jabatan.

Apakah boleh iri dengan PNS Pemda DKI? Tidak perlu. Paman saya yang bijak, Bambang Subianto, pernah memberikan rumusan menarik soal harga & nilai (baca: uang) yang masih terngiang sampai sekarang. Oh, dan ini berlaku universal untuk semua profesi di kolong langit. Jika menghendaki “harga” kita terus meningkat, maka hal terbaik yang bisa dilakukan adalah menempatkan “harga” tersebut sedikit dibawah “nilai” kita sesungguhnya. Dan selanjutnya, senantiasa kembangkan, tingkatkan dan bangkitkan “nilai” kita, bukan harga kita. Cara demikian akan menghindarkan diri dari pengaruh devaluasi akibat terlalu meninggikan harga tanpa mengimbanginya dengan nilai. Always put your price slightly lower than you values – Bambang Subianto.