It’s Never About the Money

January 26, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

Saya tidak pernah merasa jadi orang kaya itu penting. Bukan karena tidak suka uang – atau denominasi kekayaan lain. Bukan juga karena sedang mendalami ilmu kebathinan tertentu yang harus menjauhkan diri dari nikmat dunia. Justru sebaliknya, saya dan keluarga sangat menikmati keasyikan keluarga kelas menengah Indonesia pada umumnya: Sesekali makan enak di restoran lama saji (maksudnya bukan restoran fastfood) bersama keluarga & sahabat, punya toko (baca: brand) pakaian kebanggaan yang baru bisa dibeli setelah beberapa waktu menabung. Apa lagi? Mampu keluar kota atau dalam frekuensi lebih jarang juga bisa keluar negeri, dan punya properti semata wayang yang difungsikan sebagai tembat tinggal keluarga. Terdengar normal bukan? Jika anda menjawab tidak – bisa jadi anda masuk kategori yang masih harus diberdayakan atau sudah teramat sangat berdaya.

Saya perlu uang dan hingga hari ini masih paham bagaimana mendapatkan uang dengan cara asyik tanpa harus menipu diri sendiri, apalagi orang lain. Walaupun sudah 11 tahun lebih tidak lagi memperoleh gaji bulanan, saya merasa sangat beruntung bisa menjalani dan menikmati hidup sebagai penulis, pembicara publik dan pebisnis kecil. Apakah saya kaya? Saya tidak merasa kaya sekarang sebagaimana saya tidak merasa miskin saat menerima gaji pertama sebesar Rp 675,000 dahulu kala. Saya merasa beruntung – diberkahi dan diberkati oleh Sang Pencipta.

Aiming just for money & wealth is the perfect recipe for greed. Kenapa jadi orang kaya tidak penting? Karena yang penting bukan kekayaannya namun bagaimana kekayaan itu diperoleh, dipergunakan dan dinikmati. Tidak ada yang istimewa saat seorang anak 19 tahun bisa punya Rp. 57 Milyard karena bapaknya seorang pejabat. Tidak ada hebatnya saat seorang suami Walikota bisa punya begitu banyak mobil super mewah yang tidak akan pernah bisa dikendarai sekaligus. Dan tidak ada yang luar biasa saat 10,000 orang bisa menghadiri pernikahan super mewah anak konglomerat papan atas.

Those people who think money will make you happy don’t really have money. Sebelum dituduh nyinyir dan mengkambinghitamkan orang-orang kaya, perlu saya jelaskan bahwa tidak ada salahnya menjadi kaya. Bisa jadi jika cara & perilakunya benar justru sangat baik jadi orang kaya. Sebagaimana tidak tepat jika tulisan ini dianggap sebagai anjuran untuk hidup miskin menderita. Saya sedang memprotes esensi kata “kaya” yang sempit karena hanya akan berujung pada beberapa kata yang jauh dari baik, apalagi indah: Rakus, serakah, tamak dan seterusnya.

It’s never about the money, it’s about living a life of joy & meaning. Jika anda sedang meniti karier, menjalani pekerjaan dan tengah berupaya keras untuk bisa punya uang banyak, ketahuilah bahwa uang akan membuat segala hal yang teramat mudah tampak teramat sulit. Jika berkenan, segera alihkan perhatian dari uang ke yang lain.

Jadi harus bagaimana dong? Temukan aktivitas yang paling mengasyikan untuk anda. Bangun pekerjaan / bisnis impian anda dari aktivitas tersebut. Temui dan kumpulkan orang-orang unik yang anda percayai untuk menjadikan pekerjaan / bisnis sebagai sesuatu yang hebat – bukan hanya untuk anda. Jalani, tekuni dan nikmati tanpa (terlalu) mempedulikan uang. Dan suatu hari anda akan melihat kebelakang dan menyadari telah mencapai kesuksesan hakiki melebihi apapun yang pernah anda bayangkan – dengan uang dan kekayaan melewati dari kemampuan anda menghabiskannya. Semoga saja. Saya tutup tulisan ini dengan mengutip Charley Sweeney: “It’s nice to build up a net worth, but your balance sheet only counts when you die”