2015: The Year of Relentless Optimism

January 5, 2015 | RENE

SCROLL TO READ

365 hari yang penuh dengan kejadian, fakta dan cerita telah berlalu, selamat datang tahun baru 2015. Episode baru kehidupan telah terhampar di hadapan mata dengan segala kesempatan & tantangan serta rahasia & pembelajaran. Bagaimana harus melangkah agar tidak senantiasa terperdaya oleh situasi? Apakah cukup dengan menuliskan resolusi sebagaimana yang lazim dibahas dalam berbagai media mainstream oleh para pakar? Apalagi sih yang bisa dilakukan?

Resolusi tidak jelek walaupun bukan segalanya. Saya tidak akan pernah merekomendasikan penulisan resolusi secara adhoc, terlebih tanpa melalui proses pemahaman diri yang baik (baca: passion & mission yang melekat dalam diri setiap manusia). Tanpa itu, resolusi tidak akan pernah relevan dalam kehidupan – dan hanya dipenting-pentingkan menjelang tutup tahun dan segera dilupakan saat awal tahun. Apakah anda masih ingat resolusi tahun 2014? Bagaimana dengan resolusi tahun-tahun sebelumnya?

Can anyone be an optimist? Are you an optimist? Obyektif penulisan resolusi tahunan adalah untuk menumbuhkan keyakinan terhadap diri sendiri dan tentang hari esok yang lebih baik. Singkatnya, ajakan membangun optimisme dan dorongan agar memilih jadi orang optimis. Kegagalan resolusi adalah saat tidak diimbangi oleh optimisme sang empunya.

Optimism goes so much more than positive thinking. Apakah optimis adalah soal cara pandang positif tentang segala hal? Tidak hanya itu. Optimis berasal dari bahasa Latin “Optimus” yang mengandung arti “terbaik.” Tidak sekedar dalam memandang orang lain, lingkungan atau keadaan sekitar, namun jauh lebih penting dari itu juga cara pandang kedalam dan terhadap diri sendiri. Seorang optimis tidak sekedar melihat hal terbaik dalam setiap keadaan, namun keyakinan bahwa situasi-kondisi-dan-apapun itu dihadirkan untuk membantu proses tumbuh kembang dirinya.

Relentless optimism requires clarity of mission in life. Kenapa harus begitu? Karena seorang optimis meyakini dirinya sebagai pengemban misi khusus tertentu untuk menjadikan dunia, alam, negara, organisasi dan keluarga jadi lebih baik melalui kehadirannya. Dalam tataran sudut pandang ini, tidak ada lagi hal yang buruk karena sekedar buruk atau jelek karena sekedar jelek. Semua terjadi karena didasari oleh alasan terbaik dan akibat terbaik yang akan terjadi pada waktunya.

Yesterday’s bad news could be tomorrow’s most awesome story. Nah, begitu banyak hal-hal buruk dan baik telah terjadi pada diri kita sepanjang tahun 2014. Begitu banyak peristiwa membahagiakan, menakutkan, memberdayakan, menyedihkan, merindukan, menyebalkan, membosankan, menggairahkan, menyegarkan, melegakan – dan seterusnya. Semua sengaja dimunculkan demi maksud terbaik untuk kita sekarang, besok dan selanjutnya. Jika sudah bisa memegang prinsip ini maka anda boleh menyebut diri sebagai seorang optimis.

Apa yang bisa dilakukan sekarang selain menuliskan resolusi awal tahun? Coba ajukan 3 pertanyaan ini pada diri sendiri: (1) Sebut satu pengalaman anda pada tahun 2014 yang bakal anda ingat seumur hidup? (2) Hal terbaik apa yang ada lakukan / putuskan pada tahun 2014 – dan kenapa? (3) Jika ada 1 hal yang bisa anda ubah pada tahun 2014, apakah itu – dan kenapa? Jawaban-jawaban anda akan memberi gambaran bagaimana anda bisa menapaki 2015. Sebagaimana dengan sangat indah pernah disampaikan oleh Jalaludin Rumi: “Yesterday I was clever so I wanted to change the world. Today I am wise so I am changing myself”