The WHAT & HOW Always Follow the WHY

December 31, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Apa sih resep mudah hidup bahagia bagi yang single? Bagaimana bisa sukses jadi pengusaha terpandang? 3 cara mudah agar cepat naik pangkat dan menduduki jabatan puncak. 5 tips mudah menjadi suami / istri yang baik. 10 langkah menuju berat badan ideal. Dan sebagainya. Ini sekilas isi artikel dalam banyak majalah, buku-buku dan obrolan dengan para pakar di televisi. Oh ya, semua contoh diatas saya ambil apa adanya dari halaman-halaman majalah yang saya pilih secara acak. Seolah-olah segala hal bisa dibuatkan resep dan direduksi kedalam langkah-langkah mudah seperti masak nasi goreng atau merakit furniture IKEA. Soal nasi goreng, saya yakin keahlian memasaknya dengan enak tidak dengan serta merta bisa dikerdilkan dalam sebuah resep. Selalu saja ada hal-hal yang hanya bisa didapat saat menjalani prosesnya seperti: Kapan tahu waktu yang tepat untuk memasukkan nasi? Berapa lama harus diacak diatas wajan? Bagaimana cara menaburkan garam secukupnya itu? Dan sebagainya.

Belakangan saya sangat terganggu dengan budaya WHAT-HOW yang semakin mendominasi masyarakat kita. Bagaimana tidak? Jika WHAT-HOW sudah mencukupi artinya tidak ada lagi entrepreneur gagal. Semua orang bahagia dan senantiasa mampu membahagiakan orang lain. Dan tidak ada satupun manusia yang mengalami obesitas. Kenyataan justru menunjukkan sebaliknya. Kita semakin tergantung dengan cara-cara mudah namun semakin enggan memikirkan, merasakan dan menjalani prosesnya. Kita semakin sering mencari jalan pintas untuk mencapai hal-hal yang menurut kita penting, tanpa benar-benar memahami KENAPA hal-hal tersebut perlu menjadi penting dalam hidup kita.

It’s tough to think beyond conditioning. Resep, cara mudah, tips singkat memang memudahkan namun sama sekali tidak menggambarkan proses perolehannya. Esensi ilmu terjadi saat bernai mempertanyakan kenapa alias the WHY – dan berupaya menjawabnya sendiri terlebih dulu. Kenapa penting menjadi entrepreneur terkemuka? Kenapa ingin bahagia? Kenapa perlu punya berat badan ideal?

Knowledge comes, but wisdom lingers. Bisa jadi resep, tips dan langkah mudah justru membatasi keberanian, mengurung niat dan memenjarakan pikiran. Kepatuhan semata tidak akan pernah memadai dalam proses bertumbuh & berkembang dengan sempurna. Bijaksana muncul saat ilmu tidak sekedar diujicobakan namun juga dipikirkan, dierenungkan dan dipahami.

The WHAT-HOW always follows the WHY. Bagaimana jika tidak mengikuti tips mudah dan melakukan kesalahan? Sama sekali bukan masalah. Problemnya bukan pada kesalahan namun pada ketakutan tidak boleh berbuat salah. Bagaimanapun pelajaran paling berharga terjadi saat belajar dari kesalahan yang dialami sendiri.

Jadi bagaimana harus melangkah tanpa harus tergantung pada tips? Tanpa bermaksud menawarkan tips baru – yang penting dipahami adalah prinsipnya. Kita semua punya pikiran dan perasaan, masing-masing memegang separuh dari fungsi otak. Jika pikiran (baca: logika) mengatakan satu hal dan perasaan mengatakan hal lain, senantiasa pilih perasaan. Walaupun mungkin bukan pilihan terbaik, namun dipastikan hidup akan jauh lebih berwarna, menarik dan ceria. We are always getting ready to live, but never living. Now it’s time to change that.