It’s About Decisiveness, Not Decision

December 23, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Anda pernah ragu saat harus mengambil keputusan penting? Terlebih jika bakal berpengaruh besar terhadap karier, bisnis, kehidupan, keluarga dan masa depan. Jurusan kuliah apa yang paling asyik untuk ditekuni dan bakal mendatangkan manfaat di masa depan? Mana yang harus dipilih, tawaran kerja dari perusahaan A atau B? Pilihan untuk bicara apa adanya pada si boss besar atau diam saja? Dan seterusnya. Dalam konteks lebih besar bisa dibayangkan keputusan-keputusan yang harus diambil oleh Presiden, Menteri ataupun para pemangku amanat. Keputusan apapun yang ditempuh sudah pasti tidak akan bisa memuaskan semua pihak. Siapa yang harus dipilih untuk menduduki posisi tertentu? Siapa yang bisa benar-benar dipercaya untuk memperjuangkan kepentingan rakyat? Kebijakan mana yang harus diputuskan? Dan sebagainya. Kekhawatiran membuat keputusan salah seringkali mendominasi pikiran sehingga terasa tidak ada keputusan apapun yang cukup baik. Jika sudah demikian, menunda – atau jika perlu tidak mengambil keputusan terkesan jadi pilihan terbaik.

Setiap langkah yang diambil pasti mengandung resiko. Hmm… kalimat ini sepertinya belum lengkap. Mungkin lebih tepat begini: Setiap langkah yang diambil – ataupun tidak diambil (alias berdiam diri) pasti mengandung resiko. Artinya tidak ada yang tanpa resiko, termasuk saat memilih untuk tidak mengambil resiko apapun. Bahkan saat sedang santai di pagi hari seperti sekarang dengan ditemani secangkir kopi dan membaca koran ini. Bagaimana dengan anda?

Every decision always carries its own risks – including when no decision is made. Menurut celoteh seorang teman yang berprofesi sebagai aktuaria, resiko hampir selalu bisa dikaji, diangkakan dan diukur. Contohnya? Resiko tewas karena terhantam petir adalah 1:3juta, sementara resiko mati tenggelam 1:2juta. Resiko berada dalam pesawat jatuh 1:11juta dan resiko terlibat dalam kecelakaan mobil 1:6.700. Apa lagi? Ada kalkulasi resiko yang menarik terkait dengan kefanaan manusia: Probabilitas meninggal dunia pada tahun tertentu meningkat dua kali lipat setiap 8 tahun. Nah, jika ingin sepenuhnya terbebas dari resiko maka artinya sudah siap tidak jadi bagian dari statistik… alias tidak lagi hidup.

Decisiveness generates confidence. Galau, bingung, gundah dalam memilih sebenarnya sah-sah saja. Itu sinyal dari dalam jiwa bahwa kita peduli. Namun jika dibiarkan terlalu lama maka akan menjelma jadi ketakutan dalam mengambil keputusan. Sebaliknya, jika kepedulian segera diikuti oleh ketegasan maka akan memunculkan kekuatan bersikap dan keyakinan bertindak. Keduanya adalah komponen penting proses tumbuh kembang diri.

You can be right, you can be wrong – not all the time. Tidak ada satu instrumenpun yang bisa meniadakan resiko membuat keputusan salah dan memastikan keputusan benar. Jika ternyata salah artinya wajib minta maaf dan dikoreksi. Jika ternyata benar pastikan terus dijalankan dengan baik – sambil juga tidak lupa untuk bersyukur tentunya.

Seringkali penyebab keraguan adalah terlalu banyak yang kita pikir harus dikerjakan. Masih menggunakan to-do-list? Dalam daftar ini semua tampak penting dan urgent. Sebelum membiarkannya menjadi penghalang ketegasan memilih ada baiknya daftar tersebut dibagi kedalam 3 kategori: Kerjakan, delegasikan atau singkirkan. Dan biasakan miliki to-do-list yang bisa ditulis dalam selembar kertas kecil post-it. Know that decisiveness creates momentum to excel, to perform and to succeed. Be decisive. Just do it. And live a life that really matters to you.