Your Wildest Idea, Please

December 14, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Apa hal paling “gila” yang pernah anda pikirkan untuk diri sendiri? Melakukan bungee jump dari ketinggian 60 meter? Menyelam bersama ikan hiu – yang mudah-mudahan sedang kenyang? Atau ambil cuti tidak dibayar selama satu tahun untuk berkeliling ke pelosok Indonesia dengan cara paling murah dan sederhana? Apakah sudah cukup “gila”? Jika belum silahkan tuliskan sebanyak-banyaknya ide-ide tersebut dalam waktu 5 menit sejak membaca kalimat ini. Jangan terlalu banyak dipikirkan mungkin atau tidak mungkin – rasakan saja, dan tuliskan semua hal gila yang pernah terlintas dalam pikiran anda sekarang. Ide-ide “gila” ini juga tidak perlu dilaporkan pada siapapun – sepenuhnya hanya dari, oleh dan untuk anda sendiri. Jadi tidak perlu menulis dengan sungkan. Bisa? Ya, sekarang… Jangan melanjutkan baca kolom ini jika belum melakukannya.

… … … (jeda waktu 5 menit)

Sudah anda tuliskan? Sekarang apa yang anda rasakan? Jika anda mengerjakannya dengan lepas tanpa sungkan sedikitpun bisa jadi anda merasa kaget saat membaca ulang tulisan anda barusan. Kaget karena tidak menyangka begitu banyak hal-hal “gila” yang bisa anda munculkan dalam waktu singkat. Mungkin juga ada perasaan geli menertawai kebodohan anda sehingga punya pemikiran seperti itu. Nah, satu kata yang saya cari adalah BEBAS. Perasaan terbebas dari keterbatasan kondisi dan situasi yang membelenggu diri saat ini. Ide-ide gila tidak pernah dibatasi oleh ruang, waktu dan berbagai batasan yang seringkali kita munculkan sendiri. Dan perasaan terbebas ini adalah titik awal perasaan BERDAYA – saat anda merasa dimampukan, dibisakan dan dimerdekakan.

Everyone can be an independent thinker. Latihan mudah ini diajarkan oleh Pik Singgih, almarhum ayah yang membesarkan saya untuk melatih imajinasi, sudut pandang pemikiran – dan yang terpenting keberanian untuk bermimpi besar. Jika saya pikir cuma sekedar untuk seru-seruan mengisi waktu, sekarang saya menyadari manfaatnya dalam proses tumbuh kembang kehidupan pribadi ataupun profesional.

Today’s big dream may be tomorrow’s normality. Masih ingat era sebelum google ada? Begitu banyak waktu terbuang untuk mencari informasi relevan. Apakah tidak gila saat Larry Page & Sergey Brin berpikir untuk mengunduh, menata dan menyusun peringkat semua informasi dalam dunia maya? Sekarang google sudah menjadi bagian paling normal dalam kehidupan kita. Bagaimana dengan Pak Tirto Utomo yang sudah memikirkan air minum dalam kemasan saat tidak ada satu orangpun melihat keperluannya. Dari setiap cerita pencapaian besar pasti diawali dari keberanian untuk membayangkan sesuatu yang tidak terbayangkan oleh orang-orang lain.

Change tends to be revolutionary, not evolutionary. Kenapa harus berpikir kenaikan 10% jika bisa 10 kali lipat? Kenapa sekedar memikirkan kualitas pendidikan anak-anak kita jika bisa memikirkan hal yang sama untuk semua anak Indonesia, atau dunia? Kenapa hanya menerima korupsi sebagai kondisi yang berlaku – jika bisa ambil peran meniadakan korupsi selamanya? Kenapa hanya bisa lelah melihat kiprah politisi katro – kenapa tidak turut urun rembug memikirkan dan berupaya memastikan hanya orang-orang terbaik yang bisa menerjuni politik? Dan seterusnya.

Even if you fail, you’ll probably learn something important. Bagaimana jika gagal? So what? Coba lagi, usaha lagi dengan cara lain dan melibatkan lebih banyak orang. Lagipula jika satu kegagalan sudah cukup untuk menghentikan kiprah kita, bisa jadi memang kita belum layak disebut sebagai manusia sempurna. Baru separuh jadi.

Jadi harus bagaimana? Terserah anda karena kehidupan ini sepenuhnya milik dan dalam kuasa anda. Namun jika boleh menyitir salah satu pertanyaan filosofi paling mendasar “Why are we here?” Bisa jadi jawabannya “We are here to overcome today’s problem for better tomorrow, to flourish, to nurture, to grow and leave our legacy to the next generation.”

Share your wild ideas with us, colek di @ImpactFactoryID 🙂