Education: Your Contribution = Your Legacy

December 8, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Awal minggu ini beredar cerita tentang Pak Maman Supratman, seorang guru honorer SMP 17, Bekasi – Jawa Barat yang sudah bekerja selama 40 tahun dalam status tersebut. Dalam konteks ketenagakerjaan, honorer artinya sementara, tidak tetap karena lazimnya hanya diberikan pada karyawan pemula atau pengganti – dan tentunya tidak menerima manfaat penuh dibandingkan mereka yang permanen. Keseharian yang dijalani Pak Maman bisa jadi hanya diketahui oleh segelintir orang jika Menteri Pendidikan & Kebudayaan, @aniesbaswedan tidak sedang berkunjung kesana. Sedemikian lama Pak Maman sudah mengajar sehingga beberapa guru dan bahkan, kepala sekolah yang menjabat saat ini adalah bekas murid beliau. Kenapa Pak Maman tidak langsung diangkat? Ternyata kebijakan soal ini sepenuhnya terletak pada pemerintah daerah setempat. Sebuah cerita pengabdian yang mengharukan, sekaligus juga sebuah potret pendidikan bangsa yang menyesakkan.

Penghargaan pada profesi guru merefleksikan cara pandang soal pendidikan. Sehingga tidak perlu heran saat mengetahui nilai rata-rata uji kompetensi guru di Indonesia 44.6 dari standar yang diharapkan 70. Atau saat tahu Indonesia menduduki peringkat nomor 2 dari belakang berdasarkan pemetaan mutu perguruan tinggi. Atau saat UNESCO mencatat hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang punya minat baca serius. Heran? Kaget? Tidak perlu. Ini fakta nyata – semua diungkap oleh @aniesbaswedan dalam pertemuan dengan para kepala dinas pendidikan & kebudayaan daerah. Sebuah pemaparan paling jujur yang pernah disampaikan oleh Menteri Pendidikan & Kebudayaan saat masih menjabat. Silahkan ketik “Gawat Darurat Pendidikan Indonesia” pada mesin pencari google jika ingin tahu lebih banyak. Saya sudah membaca tuntas dan masih merasakan sakit perutnya sampai sekarang.

Education begins from home and shall never end until we die. Salah siapa? Pemerintah sebelumnya? Menteri sebelumnya? Para oknum? Sudahlah, tidak ada gunanya menyalahkan siapapun. Akui saja ini sebagai permasalahan bersama yang harus dihadapi secara bersama pula. Dan hal pertama yang harus dilakukan sudah terjadi saat mengakuinya sebagai masalah. Lebih baik memusatkan energi yang ada untuk berkolaborasi, bekerja dan berkarya bersama.

If people matter, education matters even more. Apa yang bisa dilakukan sekarang? Turun tangan untuk terlibat langsung. Ambil peran sekecil apapun dalam gerakan semesta bernama pendidikan anak-anak bangsa. Butuh ide-ide segar untuk memunculkan antusiasme terhadap sektor pendidikan. Kenapa proses belajar mengajar tidak bisa dibuat asyik, seru dan memberdayakan? Kenapa sekolah selalu identik dengan ujian, nilai dan kelulusan? Kapan dan bagaimana sekolah bisa jadi pusat tempat tumbuh kembang terbaik nomor dua bagi anak-anak Indonesia. Terbaik pertama sepatutnya disandang tempat lain bernama rumah.

Your contribution today will be your legacy. Apa lagi? Perlu kolaborasi untuk meninggikan dan memuliakan profesi guru. Kenapa harus begitu? Profesi ini wajib dimuliakan karena mengemban misi mulia. Setiap menit waktu yang dilalui seorang guru yang yakin, mampu dan berdaya – dihadapan belasan atau puluhan muridnya adalah investasi paling berharga untuk masa depan bangsa ini.

Butuh kontribusi waktu, keahlian dan kepedulian untuk mengeluarkan pendidikan Indonesia dari kondisi gawat darurat. Bukan sekedar untuk perbaikan angka-angka statistik, namun sebagai bagian dari pemenuhan janji kemerdekaan. Lagipula, dimanapun anda dilahirkan, tidak harus menentukan profesi dan masa depan anda. Dan kita masih sangat jauh dari ide kemerdekaan yang paling mendasar: Keadilan sosial (baca: keberdayaan, kemaslahatan & kebahagiaan) bagi seluruh rakyat Indonesia. Education happens in school, at home and between school and home – Nietzsche.