Beyond Best Practice

December 2, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Setiap orang tua pasti menghendaki yang terbaik untuk anak-anaknya –Dengan cara-cara yang paling dipahami orang tua tersebut. Saya yakin semua orang tua pasti sepakat dengan kalimat pertama. Dan saya hampir yakin sebagian besar orang tua seringkali tidak menyadari kalimat kedua. Apa maksudnya? Jika sang ibu lulusan S1, dia pasti menginginkan anaknya minimal juga lulus jenjang S1 atau bahkan lebih tinggi lagi. Jika sang ayah meyakini membaca koran setiap hari adalah resep keberhasilan hidup, maka dia juga mengharapkan si anak mengikuti pola serupa.

Lebih jauh lagi, jika anda punya anak pasti selalu hendak memastikan mereka menikmati kualitas hidup sebagaimana yang anda nikmati saat ini. Tidak peduli saat dulu harus keluar masuk kendaraan umum, jika sekarang sudah terbiasa mengendarai mobil pribadi, tentu manfaat ini juga diperuntukan bagi anak-anak. Jika sudah terbiasa liburan keluar negeri, tentu anak-anak juga harus turut menikmatinya. Tidak ada yang salah, sangat lumrah dan wajar.

Today’s best practice will be tomorrow’s dead end. Problem pendekatan yang dalam dunia manajemen dan korporasi dikenal dengan istilah best practice ini adalah relevansi waktu dan perbedaan konteks. Pendekatan, tata cara dan metodologi yang mengantar kita pada titik ini sudah pasti akan sama sekali berbeda dengan pendekatan, tata cara dan metodologi yang dibutuhkan anak-anak kita untuk tumbuh dan berkembang. Jika pendekatan yang sama dipaksakan tanpa mengindahkan perubahan zaman & perbedaan konteks maka tidak perlu heran jika hasilnya mengecewakan.

What we know brings comfort, but not necessarily progress. Saat saya kuliah dulu setiap kali riset mengandalkan buku-buku yang tersimpan rapi di perpustakaan kampus. Butuh waktu beberapa hari, bahkan minggu untuk memperoleh referensi yang tepat dan bermanfaat. Perlu proses panjang dan kepiawaian agar bisa dilayani dengan baik oleh para petugas perpustakaan. Sekarang? Mahasiswa hanya perlu mengakses google atau wikipedia untuk mendapatkan informasi serupa – semua dalam hitungan menit, bahkan detik.

Best practice is a study of history. Brian Chesky, pendiri www.airbnb.com – situs crowd-sourcing terkemuka layanan tempat pondokan & liburan, tidak akan pernah bisa menjadi sebesar, sehebat dan seheboh sekarang jika hanya mendasarkan pemikirannya pada best practice dunia perhotelan dan pariwisata. Elon Musk tidak akan pernah bisa memunculkan Tesla – mobil keren bertenaga listrik berkinerja mobil balap jika hanya memperhatikan best practice industri otomotif. Jokowi tidak akan pernah bisa terpilih jadi Presiden RI jika hanya mengandalkan best practice para Presiden RI sebelumnya. Dan anak-anak kita tidak akan bisa bertumbuh, berkembang dan bergelora jika hanya menggunakan referensi best practice kehidupan kita.

The moment of creation is never a template or copy & paste. Meniru, memodifikasi dan mencari referensi best practice memang mudah, namun tidak bisa disebut sebagai karya dan kreasi. Sejarah memang penting namun harus diimbangi dengan keberanian berimajinasi, bereksperimen dan bergerak keluar dari pakem-pakem yang sudah disusun sebelumnya.

Perubahan dunia telah, masih dan akan semakin cepat, dinamis dan sulit diprediksi. Tantangan anak-anak masa depan akan sangat berbeda dan jauh lebih hebat daripada tantangan yang harus kita hadapi saat ini. Semua perlu direspon. Semua wajib dijawab. Semua butuh terobosan – dan kebaruan. Brian Chesky berikut tidak akan membuat hal serupa airbnb. Mark Zuckerberg berikut tidak akan membuat sesuatu seperti facebook. Jika masih sekedar meniru mereka dan mengandalkan best practice artinya masih belum benar-benar belajar dari mereka. If you can’t offer something new, you need bring up the newness in you. Have courage to change the world – and nothing less.