The Risk of Not Making Any Decision

November 17, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Masih ingat keputusan-keputusan besar dalam hidup anda? Keputusan untuk mengambil pekerjaan tertentu? Keputusan saat akan mempekerjakan seseorang – atau mungkin saat harus memberhentikannya? Keputusan untuk terjun dalam bisnis tertentu? Atau mungkin… saat harus memilih atau menerima calon pasangan tertentu? Mulai dari mata terbuka di pagi hari hingga rasa kantuk mengantar di malam hari, kehidupan dipenuhi dengan pilihan-pilihan. Sebagian besar bisa dipilih dengan teramat mudah tanpa harus berpikir panjang seperti mau sarapan apa, makan siang dimana, nonton film apa dan seterusnya. Sebagian lagi butuh lebih banyak pertimbangan seperti apa yang harus disampaikan dalam laporan berkala ke si boss, mau buat acara outing kantor dimana hingga pilihan liburan tahunan keluarga. Sebagian kecil lainnya, tidak sering namun pasti terjadi – butuh proses pikir mendalam dan menyeluruh – seperti yang disebut di awal alinea ini.

Beberapa keputusan tidak mudah diraih, bisa jadi karena faktor resiko yang harus ditanggung jika salah memilih. Semakin besar resiko semakin banyak pertimbangan. Dan semakin banyak pertimbangan semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mengkajinya. Bahkan tidak jarang tidak ada keputusan apapun yang diambil – seolah jika tidak mengambil keputusan maka tidak akan terbebani oleh resiko. Benarkah demikian?

Our minds simply hate uncertainty. Siapapun, dimanapun, kapanpun dan apapun yang anda lakukan pasti harus menetapkan pilihan dan menanggung resikonya. Tidak ada pilhan yang terbebas dari resiko – apapun itu, bahkan untuk pilihan yang “paling aman” sekalipun. Dan memilih berdasarkan resiko semata tidak salah, namun juga belum tentu bijak dan hampir pasti tidak istimewa.

Indecision creates anxiety. Nah, sekarang coba ingat-ingat lagi bagaimana anda sampai pada keputusan-keputusan besar dalam hidup anda? Apakah berkat dukungan data dan informasi selengkap-lengkapnya? Bukankah pengetahuan adalah power? Sehingga semakin banyak asupan informasi dari koran, linimasa twitter hingga e-book – seharusnya semakin mempertegas kemampuan pengambilan keputusan. Atau justru sebaliknya, sekedar berdasarkan informasi terbatas dan dengan mengandalkan elemen lain yaitu intusi?

Making decision or not making decision = accepting risks. Sebuah kajian mendalam tentang proses pengambilan keputusan pernah dilakukan oleh Universitas Princeton di Amerika Serikat. Riset tersebut membuat simulasi keputusan pemberian pinjaman pada subyek yang sama oleh dua kelompok yang berbeda. Kelompok pertama memperoleh informasi sepantasnya, sementara kelompok kedua diberikan informasi yang sama namun dalam besaran jauh melebihi dari yang dibutuhkan. Walhasil, kelompok pertama lebih cepat memutuskan agar kredit diberikan. Sebaliknya, kelompok kedua memutuskan minimal 2 kali lipat lebih lama agar kredit tidak diberikan.

Knowledge helps reducing uncertainty, but not the risks of indecision. Sayang kajian tadi tidak memuat informasi tentang keputusan mana yang lebih tepat, namun semakin banyak informasi belum tentu baik dalam proses pengambilan keputusan. Sehingga tidak mengherankan jika semakin lama keputusan ditunda – atas nama perolehan informasi tambahan – semakin sulit memutuskan dan semakin besar kemungkinan keputusan tidak diambil.

Tidak ada resep untuk terbebas dari resiko saat mengambil keputusan, termasuk saat terus menundanya. Keputusan tepat tidak terjadi saat diambil, namun saat dilalui dan diterima resikonya – apapun itu. Saya akhiri kolom ini dengan mengutip rangkaian kata-kata keren relevan dari William James: “When you have to make a choice and you don’t make it, that is in itself a choice.”