Personally Effective

November 5, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Coba perhatikan orang-orang di sekeliling tempat kerja atau lingkungan pergaulan anda. Ada beberapa yang seolah senantiasa termotivasi, tampak tahu benar apa yang harus dilakukan dengan hidup mereka dan sangat menikmati proses bekerja, berkarya dan berkreasi. Pagi hari riang, siang hari tetap asyik dan sore – bahkan malam hari pun tidak pernah lepas dari senyuman dan ucapan positif yang melegakan. Hal-hal sulit tampak mudah saja ditangan mereka. Sehingga tidak mengherankan mereka seringkali dipercaya untuk menangani berbagai perkara penting. Dan ujungnya, mereka lagi-lagi memperoleh pengakuan, kepercayaan dan ketenaran.

Nah, sekarang coba amati diri sendiri. Kenapa terkadang, atau bahkan seringkali, tidak termotivasi untuk melakukan apapun? Bangun pagi tidak lagi menyegarkan. Perjalanan ke kantor melewati kemacetan yang melelahkan saja sudah memakan sebagian besar energi sebelum sampai kantor. Saat di kantor selalu berkejaran dengan deadline – belum selesai melakukan satu hal dengan baik dan benar, eh, sudah ada hal tugas yang harus dikerjakan. Menjelang akhir hari badan sudah terasa seperti zombie yang tidak bisa merasakan apapun. Jangankan ketenaran dan kepercayaan, mempertahankan pekerjaan saja terasa sudah berat sekali. Kalau saja ada pilihan lain tentu sudah diambil, apa daya sepertinya cuma ada di angan-angan belaka.

Are you personally effective? Ilmu perilaku manusia menyebut kelompok yang digambarkan pada alinea pertama sebagai personally effective atau personal effectiveness. Mereka menjadi demikian bukan karena berasal dari planet berbeda seperti Superman atau Thor. Bukan juga karena faktor untung-untungan seperti genetika – walaupun saya percaya lingkungan (baca: keluarga, sekolah, pergaulan dll) punya peran penting. Sementara deskripsi pada alinea kedua adalah yang sebaliknya.

Personal effectiveness is about knowing yourself as well as you know your way home. Penting untuk dipahami bahwa personal effectiveness sangat bisa dijalankan oleh semua orang siapapun dia, ya, termasuk anda. Namun tidak untuk semua orang untuk melakukan segala hal dalam berbagai kondisi. Contohnya begini, saya selalu berharap bisa lebih rapih dalam menata diri. Saat saya ucapkan hal ini, orang-orang terdekat berkomentar kalau saya sudah sangat rapih dalam menata diri – untuk segala hal yang menarik minat saya. Buktinya? Mereka menyebut kebisaan menata diri untuk menuliskan #UltimateU di Harian Kompas secara konsisten setiap minggu. Hmmm… benar juga. Dalam kondisi ini, pengelolaan waktu dan energi terasa lebih mudah.

Always collaborate for better results. Sebaliknya, untuk hal-hal lain yang jauh dari minat seperti urusan mengatur kebugaran (baca: bentuk dan berat badan), saya sama sekali tidak rapih. Ini alasan kenapa saya butuh pelatih phisik. Ini alasan kenapa berkolaborasi dengan orang lain yang sangat menikmati bidang tersebut jadi penting untuk hasil lebih baik.

Personal effectiveness is about mastering the power within you. Pernah nonton Starwars? Anda perhatikan setiap Jedi punya light-sabre atau pedang cahaya masing-masing dengan warna tertentu. Kita semua adalah Jedi, sementara pedang cahaya kita adalah kekuatan tertentu yang memang sudah dititipkah oleh Sang Pencipta untuk memastikan proses tumbuh kembang sesuai fitrah. PR anda, saya dan kita adalah terus memahami, memastikan dan melatih segala kekuatan itu.

Tanpa personal effectiveness yang baik maka kita akan senantiasa kekurangan energi, selalu dikendalikan waktu dan lingkungan. Akibatnya sasaran pribadi tidak akan pernah bisa dipenuhi. Kehidupan dan proses tumbuh kembang akan jauh dari fitrah yang sudah didesain sejak sebelum penciptaan. Kuncinya terletak pada upaya terus menerus untuk memahami diri, melatih segala kekuatan yang dipercayakan (baca: passion) dan berkolaborasi dengan orang lain untuk hasil lebih baik. Are you personally effective? Before answering, first and foremost: SMILE – there are always reasons to do so.