Take Responsibility of Our Problems, Now!

October 21, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Apa yang hampir selalu menjadi penghambat utama dalam proses tumbuh kembang individu, organisasi bahkan bangsa? Jawabannya adalah ini: Kemauan untuk ambil tanggung jawab atas masalah yang terjadi. Jika diandaikan dengan tata cara menjawab soal ujian saat SMA/SMU dulu maka kita sangat ahli mulai dari tahu yang diketahui, tahu yang ditanya hingga tahu rumus yang diperlukan untuk menjawabnya. Namun yang hampir selalu jadi problem adalah saat harus benar-benar menuliskan jawabannya. Kenapa? Asumsinya bakal ada orang lain yang menjawab untuk kita. Problem sampah? Itu urusan dinas kebersihan atau tukang sampah mingguan yang beredar di kompleks rumah. Problem pendidikan? Ini urusan guru, sekolah dan Departemen Pendidikan. Problem uang? Ini salah si boss, dan organisasi yang tidak memberikan cukup uang untuk keluarga. Tidak akan ada kemajuan dan tidak banyak yang bisa dilakukan jika cara berpikir seperti ini masih dipertahankan. Percuma saja punya prosedur baru, sumber daya baru bahkan presiden baru jika tanpa dibarengi pola pikir baru dalam memandang permasalahan diri, lingkungan dan bangsa.

Jika tidak ada aral melintang dan semesta mendukung, maka lusa, Senin, 20 Oktober 2014, Indonesia – kita semua – akan punya Presiden baru. Beliau akan mempimpin negeri ini, manusia-manusianya dengan seabreg permasalahannya selama 5 tahun kedepan. Banyak yang optimis mengingat perjuangan kolektif hebat ribuan, bahkan ratusan ribu warga negara biasa untuk memastikan Jokowi menduduki kursi kepresidenan. Sebuah sentimen dan partisipasi publik sedemikian dahsyat yang sulit dicari tandingannya – seingat saya baru kali ini terjadi sepanjang usia saya. Optimisme juga sangat terasa setiap kali menyadari kalau 3 tahun lalu, sang calon Presiden RI ke 7 hanya satu dari ratusan Walikota di negara ini yang hampir-hampir tidak pernah diperhitungkan dalam kancah politik nasional. Dengan demikian bukankah sudah sepatutnya harapan dikumandangkan, ditujukan dan dibebankan kepada Jokowi?

Our hopes should be transformed into our actions. Punya harapan besar untuk Jokowi sah-sah saja. Terlebih jika anda salah satu relawan yang sudah mencurahkan perhatian, waktu dan segala bentuk dukungan lain. Namun berharap Jokowi segera menuntaskan problem bangsa ini artinya sama saja dengan berharap menang undian namun tidak melakukan apapun, termasuk beli undiannya.

Embrace delayed gratification, not the one that is instant. Kemenangan Jokowi tidak sama dengan minum untuk memuaskan dahaga. Tidak ada yang instan. Tidak ada manfaat tanpa perjuangan. Selaku ada proses panjang yang harus dilalui oleh Jokowi dan kita semua untuk menjadikan kehidupan sedikit lebih baik bagi seluruh manusia Indonesia.

Live in the present while investing for the future. Tidak ada panen tanpa melalui proses tanam. Percuma saja berharap memetik hasil jika enggan berusaha. Dan tidak ada problem yang bisa dipecahkan tanpa usaha dan upaya. Awali dengan mengakui problem sebagai problem saya. Artinya: Ini problem saya, sehingga saya yang paling bertanggung jawab menghadapinya, memperbaikinya dan menuntaskannya.

Punya presiden baru yang mewakili harapan rakyat adalah awal yang baik. Punya keyakinan bahwa orang-orang baik akan mengisi posisi-posisi penting di negara ini tentu melegakan. Punya keyakinan bahwa mereka bekerja untuk kepentingan kita adalah berkah luar biasa. Sekarang saatnya melanjutkan cerita Indonesia dengan bersikap, bertindak dan berbuat – bukan hanya untuk diri sendiri dan keluarga, namun untuk segenap insan bangsa. Selamat bekerja, Pak Presiden Jokowi. Selamat bekerja untuk kita semua. We can never ensure success, but we can deserve it – John Adams.