If You Only Sit Back, You Should Never Expect

October 14, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Coba cermati orang-orang di sekitar anda dengan seksama. Tidak ada dua orang yang sama namun beragam upaya telah dilakukan untuk menklasifikasikan manusia kedalam kelompok-kelompok tertentu. Idenya tidak lain untuk mendapatkan referensi kecenderungan manusia dalam berinteraksi dengan sesama dan lingkungannya. Banyak cara pengelompokan manusia mulai dari horoskop, zodiak, hingga kajian psikologis yang terkesan lebih ilmiah. Namun jika boleh mengambil simplifikasi mudah secara umum hanya ada 2 kelompok orang. Ya! Seluruh manusia bisa jadi hanya terbagi dalam dua kelompok.

Pertama, mereka yang memilih untuk terus menerus aktif berbuat sesuatu mengubah keaadaan di sekeliling mereka – ini bisa baik atau buruk tentunya. Dan kedua, kelompok yang hanya menerima keadaan tanpa merasa perlu melakukan upaya apapun untuk mengubahnya. Dimanapun, kapanpun dan siapapun anda pasti bisa dengan mudah menemui – bahkan mengamati dua kelompok manusia ini. Saat di tempat kerja pasti ada segelintir orang yang senantiasa menyuarakan ajakan untuk berbuat sesuatu. Terkadang untuk kebaikan bersama, tapi bisa juga untuk keuntungan mereka sendiri. Namun yang jelas, mereka tidak pernah segan untuk menyuarakan pendapat, bergiat melakukan apapun yang mereka pandang perlu demi mengubah keadaan sekeliling.

They don’t just sit back and expect. Dalam lingkup yang lebih besar, belum lama berselang kita disuguhi tontonan tengah malam menarik yang menggambarkan pergulatan keras antara dua pihak yang merasa paling mewakili rakyat Indonesia. Ada yang menyuarakan dengan cara elegan, tapi lebih banyak yang bicara dengan arogan, kasar bahkan asal-asalan dengan nalar dipaksakan. Mungkin anda cuma bisa geleng-geleng melihat perilaku mereka, namun satu hal yang pasti, tanpa perlu menyebut mana yang baik dan buruk (untuk bangsa ini) – suara, perilaku dan tindakan mereka mendudukkan mereka kedalam kelompok yang berani berbuat untuk mengubah lingkungannya. Dan dalam hal ini, bangsa Indonesia.

Take ownership of your own life, or somebody else will. Pertanyaannya sekarang, anda kira-kira masuk dalam kelompok yang mana? Saya pastikan 80% lebih manusia secara sadar ataupun tidak masuk dalam kategori kedua. Kenapa? Karena sudah pasti mudah, terasa normal dan wajar. Jika tidak percaya, coba perhatikan sebagian besar keluhan orang-orang disekitar anda yang pasti tidak jauh dari soal orang lain, keadaan sulit dan sempitnya pilihan-pilihan yang tersedia. “Siapalah aku hanya orang biasa?”, “Bagaimana mungkin saya bisa mengubah kekisruhan sistem pendidikan Indonesia – saya cuma guru biasa?”, Dan.. “Apa yang bisa dilakukan karyawan rendahan seperti saya?” – ring a bell berbagai bentuk keluhan semacam ini?

You are responsible for whatever happens in your life. Apakah itu kesuksesan, ketenaran, keberhasilan atau kegagalan, keputus-asaan, ketidakistimewaan dan sebagainya, semua sepenuhnya tanggung jawab si empu hidup yang bersangkutan. Bukan soal genetika. Bukan soal orang tua. Bukan soal nasib peruntungan. Tapi soal pilihan anda mau masuk dalam kelompok orang yang mana.

Sahabat saya sesama relawan @turuntangan bernama @edwarsuhadi adalah orang yang senantiasa resah – secara positif atas nasib bangsa ini. Namun dia tidak sekedar berhenti sampai disitu, dia memilih untuk (terus-menerus) berbuat sesuatu yang bisa dikerjakan, digiatkan dan dikolaborasikan disini dan saat ini. Jika beberapa bulan lalu dia mengusung inisiatif “Video60DetikAja” buat yang masih galau memilih presiden, Edward sekarang mengangkat bentuk kepedulian lain untuk membersihkan parlemen dari orang-orang bermasalah. Sebuah inisiatif bernama #IkatHitam yang saya dukung dengan penuh semangat. Edward sudah memilih untuk masuk dalam kelompok pertama. Bagaimana dengan anda? Know that if all you choose to do is to sit back and watch, you should never expect anything from anyone.