Protect Hope at All Cost

October 6, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Apa yang lebih buruk dari segala bentuk kehilangan di muka bumi ini? Kehilangan pekerjaan? Walaupun tidak mudah, pekerjaan lain selalu bisa dicari. Kehilangan harta? Selalu ada cara memperoleh penghasilan yang bisa menjelma jadi harta pengganti. Kehilangan orang terkasih? Bisa didoakan untuk keselamatan jiwanya dan ketabahan bagi yang ditinggalkan. Kehilangan reputasi? Ini buruk tapi bukan yang terburuk. Jadi apa bentuk kehilangan terburuk? Jawabannya cuma satu: Harapan. Ya, tanpa harapan, maka tidak ada alasan untuk menjalani dinamika keseharian. Tanpa harapan, semua jadi sia-sia belaka, tanpa manfaat, tanpa makna. Tanpa harapan, apa gunanya berusaha?

Sangat mudah merasa kehilangan harapan terhadap pekerjaan, kehidupan atau bahkan mungkin soal tumbuh kembang bangsa ini. Jika tidak percaya, silahkan simak tayangan televisi, atau baca tajuk surat kabar terutama dalam beberapa hari kebelakang. Apa yang bisa diharapkan saat orang-orang bermasalah diminta untuk menangani masalah besar yang dihadapi bangsa ini? Hal baik apa yang bisa muncul dari mereka yang selama ini hanya bersikap, berbicara dan bertindak untuk kepentingan sendiri dan kelompok masing-masing? Bagaimana mengelola harapan agar terus ada saat semua kejadian justru memberi rujukan untuk meniadakan harapan sama sekali?

Once your hope dies, it’s extremely difficult to get it back. Tentu mudah memilih diantara pilihan baik dan bagus. Dan tidak sulit memilih diantara yang baik dan buruk. Namun hal tersulit adalah saat harus memilih diantara yang buruk. Bisa jadi kita terpaksa memilih yang terbaik diantara pilihan-pilihan buruk, namun itupun juga buruk. Apakah harapan bisa dijaga untuk setiap pilihan yang ditempuh? Bisa jadi kuncinya terletak disitu.

Ignorance is NOT bliss. Saya bukan orang politik. Saya tidak pernah belajar politik. Saya juga tidak tergabung dalam partai politik manapun. Dan awalnya, sebagaimana mayoritas masyarakat Indonesia, saya tidak terlalu peduli tentang apapun yang terjadi di kancah politik bangsa ini. Ketidakpedulian memang memberi rasa nyaman hingga munculnya kebutuhan untuk peduli dengan melihat, mendengar dan merasakan. Dan ini tidak terelakan bagi manusia-manusia waras.

Protect hope at all cost – especially hope for better Indonesia. Belakangan saya menyadari tidak ada satupun aspek kehidupan yang tidak tersentuh oleh politik. Mulai dari bangun tidur di pagi hari hingga kembali beranjak ke peraduan pada malam hari. Makanan, minuman, rumah, kendaraan, sarana dan prasarana jalan, bisnis, kantor, telepon genggam, televisi, radio dan seterusnya – semua tidak ada yang terbebas dari pengaruh bagaimana politik dikelola, disepakati dan dijalankan.

It is obvious God can see into the future better than us. Bagaimana menjaga dan mengelola harapan? Satu-satunya cara adalah dengan meyakini akan hari esok yang lebih baik. Apapun yang dirasa buruk saat ini bisa jadi baik untuk masa depan. Apapun yang dihadirkan sekarang dan terasa sebagai kesulitan adalah modal untuk terus menerus bertumbuh kembang dengan sempurna.
Kebaikan dan keburukan adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Tidak ada satupun yang bisa ada tanpa yang lain. Sehingga keburukan, kesusahan atau kesulitan apapun yang terjadi sekarang – tidak mungkin tidak pasti akan diimbangi oleh kebaikan, kemudahan dan keberkahan tanpa kecuali, sampai kapanpun. Pertanyaannya apakah anda, saya dan kita berani mengambil peran sebagai penyeimbang? A whole society can move over the darkness – unless somebody decides to light up a candle. And that person is you. Show that you care and act like you care #IkatHitam