Solving Poverty: Low Aim is A Crime

October 1, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Awal minggu ini saya diundang untuk menghadiri acara diskusi keren dengan tajuk BIG IDEAS: Bersama Mengatasi Kemiskinan & Ketimpangan. Pengusungnya Bank Dunia beserta beberapa lembaga donor yang peduli terhadap upaya pengentasan kemiskinan. Acaranya relatif formal karena dihadiri Wapres RI, Pak Boediono dan banyak pejabat negara, tapi tetap asik – terutama saat pemaparan topik utama oleh Ekonom Utama Bank Dunia di Indonesia, Vivi Alatas. Data-data statistik yang biasanya membosankan dan hanya bisa dipahami (baca: diminati) oleh segelintir orang disulap dan ditampilkan ala presentasi TED. Presentasi hanya mengambil waktu kurang dari 30 menit namun sangat impactful karena menggunakan visualisasi keren, narasi argumentative yang tertata dengan apik dan disampaikan dalam bentuk cerita-cerita menggugah.

Pemaparan singkat itu berhasil menancapkan beberapa pemahaman soal kemiskinan di Indonesia: Pertama, pelambatan laju penurunan kemiskinan dan ketimpangan di Indonesia yang berakibat pada masih terdapat sekitar 68 juta penduduk yang menurut Vivi Alatas masuk kategori “sadikin” alias “sakit sedikit langsung miskin.” Kedua, pengentasan kemiskinan hanya mungkin terlaksana saat terjadi pembenahan sektor gizi & kesehatan, pendidikan, sosial dan lapangan pekerjaan. Terakhir, butuh peran serta semua pihak – negara, korporasi, masyarakat dan setiap orang – bukan sekedar untuk mengurangi namun meniadakan kemiskinan selamanya dari bumi Indonesia.

Poverty is the world’s most urgent problem. Diskusi soal kemiskinan ini sungguh mengusik sehingga mendorong saya untuk mencari lebih banyak informasi. Kenyataannya, jika anda belum tahu: 2.2 milyar penduduk dunia saat ini masuk kategori miskin – angka ini hampir setara dengan 10x penduduk Republik Indonesia. Sekitar 50% manusia hidup dengan kurang dari US$2.5 per hari atau sekitar Rp. 30,000 per hari – ini kurang lebih setara dengan pengeluaran parkir atau alokasi kongkow santai di gelar kopi favorit. Tidak kurang dari 22,000 anak meninggal setiap hari sebagai akibat dari kemiskinan. Masih banyak seabreg data lain yang bisa anda google sendiri.

If you don’t care, nobody will. Kenapa jadi membahas soal kemiskinan? Karena acara tempo hari sungguh menggugah – dan saya pikir sangat layak untuk juga anda ketahui. Siapa tahu ada ide-ide yang bisa anda kontribusikan dalam upaya meniadakan kemiskinan. Apakah bisnis anda bisa jadi solusi kemiskinan? Apakah apapun yang kita lakukan sekarang ada peluang untuk jadi bagian dari solusi pengentasan kemiskinan? Bagaimana caranya? Apa yang bisa kita kolaborasikan? Kapan bisa dimulai?

Not failures, but low aim is a crime – James Russel Lowell. Apapun bisa dilakukan selama berani mencoba walaupun dengan resiko kegagalan. Terkait dengan kemiskinan, hal terburuk yang bisa dilakukan adalah berpangku tangan dan menganggap kemiskinan sebagai realitas belaka, tanpa solusi, tanpa upaya, tanpa perlawanan. Sasaran ala kadarnya tidak lagi bisa diterima – sebagaimana pelambatan laju penurunan angka kemiskinan, sama sekali tidak boleh dimaklumi. Dan penetapan garis kemiskinan yang masih menyisakan 68 juta penduduk tidak miskin namun masuk dalam kategori “sadikin” – sama sekali tidak bisa diterima.

Kemiskinan bukan sekedar angka statistik, bukan materi pembahasan seminar dan bukan juga komoditas untuk berbagai program bantuan. Kemiskinan adalah tantangan nyata bagi siapapun yang tidak miskin untuk bertindak menolong dirinya, keluarganya dan sebanyak mungkin orang lain. Kemiskinan adalah musuh bersama yang harus ditiadakan, bukan sekedar dikurangi. Anies Baswedan, salah satu panelis yang hadir hari itu mengungkapkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika pemahaman, kepedulian & kemauan sudah dimiliki serta komitmen bersama sudah dipegang. Kemiskinan tidak hanya untuk dikurangi namun untuk ditiadakan selamanya. This is bold. This is daring. This is everything – because when the expectation is low, satisfaction is easy – @AniesBaswedan.