Be a Stranger for Awhile

September 29, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Saya menulis artikel ini beberapa jam setelah tiba di Melbourne, Australia. Sebenarnya saya sudah sering dengar cerita-cerita keindahan Melbourne dari banyak teman namun baru kali ini berkesempatan mampir. Perjalanan lumayan panjang terhitung sejak berangkat dari rumah menuju Bandara Soekarno-Hatta, terbang, transit dan terbang lagi hingga akhirnya sampai di tempat tujuan akhir. Dalam kondisi normal, pengaruh kurang tidur, kelelahan fisik dan perbedaan iklim antara Jakarta dan Melbourne biasanya bisa dengan mudah membuat kesehatan tumbang. Namun yang terjadi justru sebaliknya, karena terdapat banyak hal baru yang dilihat, dilakukan dan dialami – sepertinya daya tahan tubuh baik-baik saja. Ya, tentu faktor lain juga berpengaruh seperti polusi udara Melbourne yang jauh lebih rendah daripada Jakarta. Apapun itu, semua faktor secara umum berkontribusi positif dalam menjaga stamina tubuh.

Setelah melalui usia dewasa, saya yakin anda pernah pernah merasakan pergi ke tempat-tempat baru atau bahkan kota-kota yang baru pertama kali disinggahi. Apa rasanya? Deg-degan – apakah perjalanan akan seasik yang direncanakan. Penasaran – menanti seperti apa rasanya saat hadir di tempat-tempat yang sebelumnya hanya dilihat dari gambar. Khawatir – apakah semua yang sudah dipersiapkan bakal memadai untuk melewati hari-hari sebagai orang asing ditempat-tempat baru. Dan dipastikan sensasinya pasti berlipat ganda jika anda pergi sendiri. Ini wajar, lumrah dan justru bisa jadi memberdayakan.

I’m a stranger in a strange land – Carson McCullers. Jadi orang asing atau anak baru punya keunggulan tersendiri. Memang tidak nyaman namun panca indera jadi lebih terlatih untuk melihat hal-hal yang bisa jadi tidak tampak atau tidak dirasakan oleh orang-orang lama. Seorang teman yang sudah lama tinggal di Melbourne bilang bahwa keindahan kota ini lebih terasa bagi orang yang baru datang dibandingkan mereka yang sudah lama menetap. Bagaimana tidak? Melbourne punya sarana transportasi umum yang relatif mudah dan bernilai historis tinggi. Dan bagi saya sendiri, sungguh nikmat bisa jalan kaki tanpa harus khawatir dipepet mobil atau disambar motor.

We might not know ourselves as well as we think we do. Cara pandang (seperti) orang asing juga berlaku dalam konteks melihat diri sendiri, keluarga dan organisasi. Bisa jadi apapun yang kita lihat tentang diri kita, keluarga kita dan organisasi tempat kita bekerja tidak sama dengan yang sebenar-benarnya terjadi. Tidak percaya? Coba gambarkan diri sendiri, keluarga dan tempat bekerja. Jika sudah menuliskan jawabannya – coba minta orang lain bertanya pada teman-teman, keluarga dan rekan anda tentang anda, keluarga anda dan tempat kerja anda. Saya yakin jawaban mereka berbeda.

Everybody has a blind spot when it comes to own-self. Sahabat muda saya, @CaptainRuby minggu lalu berujar kalau dia merasa lebih banyak belajar tentang organisasi kami, @ImpactFactoryID saat dia menempatkan diri sebagai “orang asing.” Dalam penjelasan lebih lanjut, Ruby menyebutkan potensi-potensi yang belum pernah terpikir oleh saya dan rekan-rekan lain. Usulan-usulan yang dipicu cara pandang berbeda bakal melengkapi pemahaman dan memperkaya proses tumbuh kembang organisasi.

Bisa jadi inovasi adalah buah pikir cara pandang baru saat dipadukan dengan pemahaman yang berlaku. Keberanian untuk memikir ulang (to rethink), melupakan apapun yang kita pikir kita tahu tentang apapun (to unlearn) dan mempelajari cara-cara berbeda (to re-learn) adalah berkah yang harus terus dijaga. Bagaimana mengawalinya? Pertama, ajukan pertanyaan-pertanyaan sulit tentang diri sendiri, keluarga dan organisasi. Kedua, undang “orang-orang asing” atau mereka yang mampu dan mau berpikir kritis. Ketiga, siapkan diri untuk mendengar, menyimak dan menerima respon mereka. Siapapun yang siap melakukan ini secara berkesinambungan dipastikan akan bertumbuh dan berkembang sesuai fitrahnya dengan sangat baik. To really know ourselves, we have to see ourselves through the eyes of others – or strangers.