Educating The Man of Tomorrow

September 17, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Berapa umur anda tahun ini? Jawabannya akan menentukan kelompok anda dalam masyarakat dan peran yang diharapkan untuk proses tumbuh kembang bangsa ini. Jika anda menjawab 30 tahun atau lebih tua maka anda tergolong dalam kelompok the son of yesterday alias anak tempoe doeloe – sama seperti saya. Kalau jawaban anda 30 tahun atau lebih muda maka anda adalah the man of tomorrow atau manusia masa depan. Dunia – dan Indonesia adalah milik the man of tomorrow – mereka yang akan jadi penentu apakah orang Indonesia akan menjadi tuan di negeri sendiri, dan bukan sekedar pasar. Mereka bakal jadi pelaku penting dalam tatanan global dunia – atau sekedar jadi penggembira yang terkadang dikasihani. Semua itu ditentukan, diawali dan dipilih dari sekarang, saat ini.

Tugas saya dan semua the son of yesterday bangsa ini adalah memastikan telah terbangunnya landasan untuk tempat berpacu bagi the man of tomorrow. Kenapa harus begini? Umur memang menyimpan rahasia yang wajib dipahami oleh penyandangnya. Usia muda menawarkan ketegasan berpikir, kegigihan berusaha dan keberanian bertindak. Sementara usia yang tidak lagi muda menyimpan kejernihan berpikir, ketenangan berusaha dan kesabaran berperilaku. Idealnya begitu walaupun tidak selalu demikian.

Great foundation allows awesome building to be built. Landasan disini adalah sekedar kiasan untuk menggambarkan kesiapan dalam berbagai bentuk dan bidang – namun jika hanya boleh menyebut satu kata maka semua bentuk dan bidang akan terpusat pada satu kata yakni pendidikan. Tanpa melalui proses pendidikan yang benar, tepat dan relevan – maka masa depan hanya akan menjadi beban, tanpa harapan.

Welcome to the extreme future today! Tantangan masa depan hanya akan meningkat dari segi kompleksitas, intensitas dan frekuensi. Tanda-tandanya sudah jelas dan bakal semakin gamblang. Tahun lalu (2013), WEF (World Economic Forum) mencatat lebih dari 200 juta orang menganggur di seluruh dunia. Angka fantastis yang mendekati populasi negara kita ini tercatat sebagai angka tertinggi dalam sejarah kehidupan modern. Lebih menakutkan lagi adalah bahwa 40% dari jumlah tersebut tergolong anak muda yang notabene sebagian besar telah menikmati jenjang pendidikan lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Sehingga tidak mengherankan jika 12.6% dari total global pengangguran adalah the son of tomorrow yang mayoritas telah terdidik.

My problem, your problem, our problem. Angka di Indonesia tidak jauh berbeda. Beberapa waktu lalu saya pernah menampilkan data pengangguran sarjana berbanding total jumlah sarjana di Indonesia ternyata lebih besar dari prosentase pengangguran lulusan SD. Perbandingan dari data tahun 2011 adalah 11.7% (pengangguran sarjana) berbanding 2.1% (pengangguran SD). Angka ini sedikit membaik tahun 2013 namun tetap saja prosentase pengangguran pada lulusan perguruan tinggi tetap jauh lebih tinggi. Lebih jauh lagi, tampak lulusan pendidikan tinggi tidak siap bekerja, berbisnis dan berkarya.

People may be uneducated but they are not stupid. Pengangguran berpendidikan tinggi membawa 2 peringatan penting: Pertama, pendidikan tinggi yang selama ini dipandang sebagai sarana pemberdayaan manusia paling mumpuni ternyata masih jauh dari berhasil. Kedua, segera dibutuhkan solusi sebelum situasi jadi bertambah buruk. Apa yang harus dipersiapkan oleh the son of yesterday untuk the man of tomorrow? Apapun itu harus didasari dengan kesadaran bahwa the man of tomorrow harus menghadapi problem yang bakal sama sekali berbeda, lebih rumit dan lebih hebat. Tidak ada satupun solusi final yang bisa mengatasi semua permasalahan dan tantangan. Semakin cepat kerendahatian ini diadopsi, akan semakin baik – dan semakin besar peluang untuk bisa memperbaiki keadaan.

Prinsip penting lain adalah penekanan soal pembenahan cara pandang, cara berpikir, cara berkomunikasi, cara berinteraksi dan cara bekerja sama. Jawaban tidak terdapat dalam gelar, sertifikat atau profesi. Menemukan solusi adalah proses yang harus dialami, ditekuni dan dinikmati– bukan karena disuapi, diajari atau dijejali. After all, real education is about empowerment.

Bagaimana menurut teman-teman? Colek kami di @ImpactFactoryID