You are Everything for the Right Kind of People

September 8, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Jika punya akun twitter, berapa jumlah follower anda saat ini? Kalau angkanya lebih dari 126 maka itu sudah melebihi jumlah follower rata-rata seluruh akun twitter di dunia. Jumlah follower tidak penting-penting amat kecuali jika anda buzzer professional yang memperoleh mata pencarian dari kicauan yang disponsori. Bagaimana dengan facebook? Jika “teman” anda berjumlah lebih 338 maka lagi-lagi anda sudah melewati angka rata-rata dunia. Masih banyak media sosial lain yang sedang naik daun seperti path, instagram, pinterest, LinkedIn dan seabreg lainnya yang tidak lagi mudah diikuti. Indikasi “anak gini hari” adalah jika anda punya kenalan di media sosial lebih banyak daripada di kehidupan nyata. Maka tidak ada yang aneh saat lebih banyak waktu dihabiskan untuk berinteraksi lewat media sosial dibandingkan interaksi langsung sebagaimana orang tua atau orang tua dari orang tua kita. Ini adalah pergeseran tatanan budaya yang sudah, masih dan akan terus terjadi.

Sosial media memang bisa jadi seru banget. Photo, gambar, film, musik, cerita, gossip – semua beredar dengan cepat tanpa peduli batasan jarak dan waktu. Percayalah, bahkan Presiden Barrack Obama, Presiden-Terpilih Jokowi dan banyak pemimpin dunia juga melakukan selfie! Saya juga bukan pengecualian. Sebagai pengguna twitter yang relatif aktif, saya tahu persis “godaan” untuk terus hadir di linimasa, terkadang tanpa ada hal-hal yang layak disampaikan. Dan seringkali dengan tidak mempedulikan orang-orang yang ada di sekitar saya. Kebiasaan kultwit (kuliah twitter), twitview (interview twitter) dan colek mencolek dengan banyak teman di media sosial secara perlahan tapi pasti memunculkan kebutuhan konstan untuk memperoleh apresiasi, pengakuan dan penerimaan secara terus menerus. Sedemikian rupa sehingga setiap RT (retweet) dimonitor. Setiap komentar sebisa mungkin dibalas. Dan jika minim respon sudah cukup untuk membuat blingsatan. Puncaknya adalah ketika anak-anak coba memerankan kebiasaan bapaknya dengan gaya mengetik didepan laptop sambil acuh tak acuh pada mereka. Bagi saya ini tamparan keras.

Look at me. Listen to me. Acknowledge me, please. Apa yang saya alami punya istilah keren dalam dunia psikologi yaitu Cinderella Syndrom. Tentu masih ingat cerita Cinderella dong? Cerita si putri malang yang harus melalui banyak cobaan berat untuk kemudian diselamatkan oleh sang pangeran yang tinggi, ganteng dan gagah berani – untuk kemudian hidup bahagia seterusnya dan selamanya. Dalam hubungan dengan media sosial, saya, walaupun laki2 tulen, menjelma jadi Cinderella!

Family values? It just means you value your family. Kenalan bisa jadi banyak sekali – terlebih lewat media sosial. Sahabat dipastikan berjumlah jauh lebih sedikit dan terkadang berganti. Sementara keluarga inti hampir pasti tidak lebih dari hitungan jari dan pasti tidak tergantikan. Definisi ini seharusnya mempermudah penetapan prioritas hidup yang juga tercermin dalam pembagian waktu dan perhatian.

Spend more time with those who talk about ideas – and those who can make you laugh. Tidak semuanya perlu disampaikan di media sosial. Masih banyak hal-hal lebih penting daripada memantau linimasa, merespon semua colekan dan menambah jumlah follower. Lebih penting dari itu adalah interaksi nyata dalam dunia nyata dengan sahabat-sahabat nyata. Ini catatan pribadi untuk saya sendiri lho.

Tingkah polah anak-anak yang jujur dan apa adanya memaksa saya memikirkan ulang hal-hal terpenting dalam hidup. Dan bagaimana keputusan tersebut menavigasi pilihan-pilihan dalam kehidupan. Tidak mudah, bahkan cenderung bertambah sulit. Namun satu hal yang pasti, keluarga tidak tergantikan dan waktu adalah komoditas paling berharga. Always know that you are nothing for the wrong kind of people. And you are everything for the right kind of people. You are their everything – and they are your everything.