In Relationship, Connection matters more than Perfection

September 8, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Siapapun yang pernah mempekerjakan orang lain untuk bisnis ataupun rumah tangga pasti juga mengalami dinamika hubungan kerja antara orang bayaran dengan si pembayar jasa. Awalnya hampir selalu baik, melegakan bahkan mungkin juga menyenangkan. Si mbak yang datang tepat pada saat keadaan rumah sedang porak poranda setelah ditinggal si mbak sebelumnya. Pak Supir baru yang mulai bekerja setelah beberapa bulan ditinggal supir lama. Anak-anak hasil perekrutan mulai bergabung untuk jadi bagian proyek baru yang akan segera dimulai organisasi. Orang-orang baru, awal baru dan jalinan hubungan kerja baru – 3 hal ini selalu jadi penyemangat dalam menjalani keseharian yang penuh harapan, keasyikan dan keseruan.

Tapi apapun yang baru akan menjadi tidak baru. Dan periode bulan madu pasti berlalu. Hal yang sama juga terjadi pada hubungan dengan orang lain. Perlahan tapi pasti apa yang dulu tidak tampak mulai muncul. Mbak baru tampak tidak segesit hari-hari awal mulai bekerja dulu. Pak Supir semakin menampakkan ketidaksabarannya dalam menghadapi kemacetan Jakarta yang senantiasa mengundang frustasi. Sementara anak-anak baru di kantor tampak belum (baca: tidak) siap menerima beban pekerjaan yang bertubi-tubi. Semangat yang dulu berkobar sekarang hanya menyisakan sikap cuek, apatis dan ogah-ogahan. Pandangan serupa juga dirasakan oleh si mbak, pak supir dan anak-anak baru. Walaupun mengerjakan hal-hal berbeda, jika mereka dikumpulkan, pendapat soal si boss akan sama: Boss ternyata tidak semanis, se-pengertian, sebaik dulu waktu awal mulai bekerja. Si boss tampak mudah sekali marah, sering memberi perintah tidak masuk akal dan semakin jarang menyempatkan waktu untuk berbincang. Hubungan yang dulu asyik, melegakan dan memberdayakan sekarang sekedar formalitas, keterpaksaan dan keharusan. Jadi harus bagaimana?

Relationship is about managing expectations & assumptions. Problem terbesar dalam sebuah hubungan antar manusia, apapun bentuk dan konteksnya – adalah soal mengelola ekspektasi dan memastikan asumsi-asumsi yang menjadi acuan. Ekspektasi pada tahap awal hampir selalu besar. Selain diberikan gaji yang (sedikit) lebih besar – si mbak, pak supir dan anak-anak baru – juga dijanjikan pekerjaan yang asyik, dukungan kerja yang memadai dan masa depan yang menjanjikan. Nah, saat fakta-fakta keseharian menunjukkan hal berbeda, ekspektasipun bergeser jadi kekecewaan.

What goes around comes around. Pembahasan awal hubungan kerja seharusnya tidak sekedar pada rangkaian tugas, sasaran jangka pendek dan panjang atau sistem pendukung. Alangkah baiknya jika awal hubungan kerja diawali dengan obrolan soal bagaimana hubungan kerja akan dijalankan, pemahaman satu sama lain dan situasi.

Connection matters more than perfection. Memang penting buat si Mbak untuk tahu tugas pagi hingga sore, namun bakal lebih baik jika si Mbak juga tahu hal-hal yang membuat si boss terbantu. Memang bagus buat pak Supir untuk tahu rute sehari-hari si boss, tapi akan lebih sehat jika pak Supir juga tahu kenapa si boss ke tempat-tempat itu dan hal-hal lain apa yang bisa memudahkan kerja si boss. Dan bagi anak-anak baru di kantor, memang bagus untuk tahu job description dan KPIs, namun jauh lebih bermakna jika mereka paham jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini: (1) Apa yang mereka kehendaki dari hubungan kerja dengan perusahaan / si boss? (2) Bantuan apa yang dibutuhkan dan bisa diberikan? Dan (3) Bagaimana memahami situasi untuk memulai percakapan-percakapan bermakna?

Tidak ada hubungan antar manusia yang sempurna – sehingga tidak patut untuk beraspirasi punya hubungan sempurna. Titik awal dari semua hubungan adalah terjadinya sebuah percakapan bermakna – atas nama keingintahuan, kepedulian dan ketulusan. Apakah sudah melakukan satu percakapan bermakna hari ini? “If conversation was the lyrics, laughter was the music, making time spent together a melody that could be replayed over and over without getting stale.” – Nicholas Sparks.