People Don’t Change, But They Grow – or Stagnate

August 25, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Surplus seringkali jadi indikasi kemakmuran kecuali soal berat badan. Walaupun enggan mengakuinya, saya punya masalah untuk yang satu ini. Jika dianalisa lebih lanjut penyebabnya tidak terlampau sulit ditemukan: Saya sangat menikmati segala jenis makanan enak tanpa punya strategi dan komitmen untuk menyeimbangkannya dengan olah raga secara rutin. Obrolan soal jogging, basket dan sepak bola selalu kalah pamor dibandingkan dengan celotehan tentang mie ayam paling enak, sate padang paling maknyus dan bakso paling legit. Keinginan untuk berubah selalu ada – mulai dari bergabung dengan gym di mall-mall terdekat, beli beragam peralatan kebugaran hingga baca-baca buku soal membentuk otot. Beragam jenis diet juga sudah dicoba mulai namun tidak ada yang bisa bertahan lebih dari seminggu. Walhasil, walaupun belum masuk kategori layak ikut program TV reality show, kelebihan ekstra lemak sudah mulai mengganggu keseharian.

Saya merasakan sendiri kesulitan besar untuk berubah demi mendapatkan berat badan ideal. Bisa jadi kesulitan serupa juga dirasakan oleh orang lain dalam dalam proses untuk berubah – tidak semata terkait berat badan namun juga terkait hal-hal lain seperti kebiasaan merokok, keteledoran buang sampah sembarangan, kecenderungan boros dan seterusnya. Atau mungkin juga terkait kebutuhan berubah demi menjadi lebih disiplin, lebih berani, lebih kreatif dan seterusnya. Ini masih belum sebanding dengan kesulitan saat tuntutan berubah justru datang dari atau ditujukan pada orang lain. Ini tergambar dalam bentuk-bentuk kalimat ini: “Kapan ya si boss akan berubah jadi lebih sabar?” Atau “Apa resepnya agar pasangan saya bisa jadi lebih [… tulis harapan anda disini…]? Intinya, jika perubahan diri sendiri luar biasa sulit maka mengharapkan orang lain berubah hampir selalu tidak mungkin.

Wanting to want to change is no the same as wanting to change. Keinginan untuk ingin berubah tidak sama dengan keinginan untuk berubah. Bingung ya? Maksudnya begini: Sebagian besar orang – termasuk saya sendiri – seringkali terjebak dalam kondisi mendambakan efek yang bakal dirasakan saat perubahan terjadi. Namun hanya segelintir orang yang mampu (dan mau) menempuh prosesnya. Terkait dengan isu berat badan, saya mendambakan keasyikan saat berat badan ideal tercapai namun tidak siap melalui prosesnya dengan berolah raga secara konsisten.

Essential Growth only happens in the area of difficulties. Pada prinsipnya manusia tidak berubah karena resistensi berubah hampir selalu lebih besar daripada energi untuk terus menerus mendorong perubahan. Satu-satunya cara paling efektif adalah dengan memandang perubahan sebagai bagian dari proses tumbuh kembang. Dan pertumbuhan paling hakiki hanya terjadi saat harus melalui kesulitan, kesusahan dan tantangan.

Awesome changes require strong purpose & continuous action. Jika berubah adalah hal mudah maka semua orang, tanpa kecuali, bakal jadi piawai dan mumpuni. Jika berubah tidak perlu energi besar, maka semua murid bakal jadi guru besar, semua karyawan bakal jadi pemilik usaha dan semua atlet bakal jadi juara.

Perubahan adalah proses tumbuh kembang berkelanjutan untuk memenuhi misi hidup. Gerbangnya adalah kepedulian. Bahan bakarnya adalah kombinasi antara keberanian, kesabaran dan kegigihan. Dalam prosesnya, perubahan bukan mengubah diri namun untuk menjadikan diri kedalam versi yang lebih baik. Mudah2an hal ini terjadi pada saya, terutama terkait berat badan – dan kita semua. You must accept yourself entirely as you are before you can change who you are. And the only thing that is stronger than the fear to change is the love to grow.

Bagaimana menurut anda? Colek kami di @ImpactFatoryID