Engineering Our Own Luck

August 18, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Do you feel lucky? Seberapa besar peran keberuntungan dalam kehidupan anda? Nah, sehubungan dengan itu, apa saja yang bersedia anda lakukan untuk jadi sedikit lebih beruntung – atau lupakan kata “sedikit” dan gantikan dengan kata-kata “banyak sebanyak-banyaknya.” Jika dikaitkan dengan pekerjaan makan jawaban anda bisa tercermin pada 2 jenis pekerjaan yang senantiasa dijumpai di permukaan bumi. Ya, jenis pekerjaan ternyata tidak lebih dari 2 menurut cara pandang ini. Pertama, pekerjaan yang sifatnya harus, wajib, kudu, mutlak, musti dan seabreg keharusan lain. Jenis ini paling lazim dilakoni oleh mayoritas manusia dimanapun kita berada. Indikatornya ditandai dengan pola transaksional berulang – maksudnya aktivitas diawali oleh kesepakatan pertukaran jasa dengan uang. Selama uang terus mengalir maka pekerjaan akan terus digeluti seadanya tanpa keinginan untuk berkontribusi lebih. Tidak ada keasyikan – selain menghitung kompensasi, hari libur dan jam pulang. Jenis kedua berbeda 180 derajad: Pekerjaan yang dijalankan atas dasar minat dengan penuh keasyikan untuk menghasilkan karya. Tidak ada paksaan, hanya niatan untuk berproses. Tidak ada hitungan, kecuali dalam kepuasan menghasilkan karya. Nah, berdasarkan penjelasan ini, jenis pekerjaan mana yang anda geluti saat ini?

Bagaimana mungkin seorang musisi bisa naik ke panggung terus menerus setiap malam selama beberapa pekan? Bagaimana bisa seorang arsitek melewatkan banyak malam tanpa memejamkan mata untuk menghasilkan rancangan desain bangunan yang bakal mendunia? Berdasarkan pemisahkan jenis pekerjaan, mereka adalah para penyandang jenis pekerjaan kedua. Apakah para kreator, mpu dan maestro menjadi diri mereka karena keberuntungan? Jika demikian apakah ada serangkaian ritual atau prosesi yang senantiasa mereka patuhi dan jalankan agar terus beruntung?

We are all very lucky people who lives in a very lucky time. Bisa dipastikan keberuntungan tidak tergantung pada profesi ataupun jabatan tertentu. Buktinya banyak orang berprofesi sama tapi punya kehidupan – dan “keberuntungan” yang berbeda. Jabatan dan profesi adalah perangkap jika hanya bisa membatasi kiprah dan karya. Tanpa pemahaman soal passion dalam diri dan kejelasan misi hidup maka apapun yang dijalan hanya atas dasar paksaan dan dorongna dari sekitar. Sungguh tidak beruntung.

Embracing the new world with enthusiasm. Ketidakberuntungan berawal dari keenggan bereksplorasi, penolakan pada hal-hal baru dan orang-orang baru serta kesombongan dalam berprofesi. Coba lihat begitu banyak inisiatif baru, penemuan baru dan ragam jenis profesi baru yang tidak pernah terbayangkan 10 tahun lalu. Apa jadinya jika kita hanya mau mendasarkan cara pandang soal pekerjaan dan mata pencarian dari apa yang kita ketahui sekarang?

Being Lucky = Being kind to everybody & always ready to help. Siapapun – ya, siapapun – yang anda jumpai setiap hari dan sepanjang hidup punya segala sesuatu yang anda butuhkan dalam bertumbuh dan berkembang. Tidak peduli lebih muda atau lebih tua, lebih kaya atau lebih miskin, laki-laki atau perempuan, pandir atau cerdas dan seterusnya. Kenapa? Karena mereka telah, masih dan terus akan melalui pengalaman yang berbeda dengan yang kita alami. Bahkan saudara kembar yang terus bersama sejak lahir dipastikan punya keunikan pengalaman saat menjalani hidup masing-masing.

Sehingga satu-satunya cara terbaik untuk menjadi (lebih) beruntung adalah dengan memaksa diri menjadi (lebih) ingin tahu, (lebih) berani, (lebih) berbaik hati, (lebih) berbagi dan (lebih) waspada. Tulisan ini saya tutup dengan mengutip sebuah ungkapan Confucius, filsuf handal yang hidup ribuan tahun lalu di Cina: “If you are lucky enough to find a way of life you love, you have to find the courage to live it.” — Good luck to all of us!