Derap Ketujuh: SEBARKAN MAKNA

August 15, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Setelah akhir kita serahkan,
dengan nafas yang berkesadaran,
dengan hati yang bersyukur,
dengan nalar yang cerdas,
dengan gerak yang melahirkan karya,
maka derap terus kita lakukan sambil kerap bercahaya,
dengan cara berbagi makna.
Karena berserah, bukan berarti menunggu tanpa makna.
Namun bergegas menyebar makna, dalam waktu yang diberikan.

Karena bukan kebetulan waktu dihadirkan.
Karena bukan kebetulan waktu dianugerahkan.

Gunakan anugerah waktu sebaik-baiknya,
karena tak ada yang mampu menghentikannya,
karena tak ada yang mampu membelinya.
karena tak ada yang mampu mengembalikannya.

Gunakan anugerah waktu,
bukan untuk hanya bergegas memaknai diri,
namun juga berbagi makna bagi yang lain.

Gunakan anuegerah waktu,
bukan untuk hanya sibuk berpendar bagi diri,
namun juga untuk berpendar bagi yang lain.

Gunakan anugerah waktu,
bukan untuk hanya terlena berpijar bagi lingkungan sendiri,
namun juga untuk berpijar bagi semua.

Ya, semua!
Karena bukan kebetulan semua dihadirkan.
Karena kita ada bersama yang lain.
Karena yang lain ada bersama kita.
Dan kesemuanya adalah cahaya yang dititipkan.

Bagaikan pelangi,
Dengan warnanya sendiri-sendiri.
Dengan kilaunya sendiri-sendiri.
Namun hanya akan indah ketika saling mendampingi,
untuk saling menerangi.

Bercahayalah tanpa menghitung warna yang disebarkan.
Bercahayalah tanpa menakar kilauan yang dipancarkan.

Bukankah mentari senantiasa berbagi rasa hangat,
tanpa pernah meminta kembali?

Bukankah air senantiasa berbagi kehidupan,
tanpa pernah menanyakannya lagi?

Bukankah dedaunan senantiasa berbagi kesegaran,
tanpa pernah menghitung hari?

Sebarkan makna melalui cahaya yang dititipkan,
karena itulah hakikat kehadiran kita,
karena itulah bukti pengabdian kita,
berguna bagi yang lain,
berbagi rahmat untuk seluruh alam.