Derap Keenam: SERAHKAN AKHIR

August 14, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Walaupun kita telah hadir berkesadaran,
walaupun kita telah ikhlas dalam kebersyukuran,
walaupun nalar telah kita cerdaskan,
walaupun raga telah kita benamkan,
Hasil akhir bukanlah milik kita.
Hasil akhir tak pernah kita punya.
Karena sesungguhnya, kitapun bukan yang mengawali.
Kita adalah pengawal.

Ya, pengawal!

Kita adalah pengawal percikan yang dititipkan,
agar berpendar,
agar bercahaya,
bersama dengan cahaya-cahaya yang lain.

Kita adalah pengawal dalam keberserahan,
bukannya menyerah, namun bernalar dalam kesadaran,
bukannya terserah, namun berupaya dalam kebersyukuran.

Kita berupaya,
bukan untuk mengharuskan,
namun untuk membuat segalanya lebih baik.

Kita berkesungguhan,
bukan untuk memastikan,
namun untuk menjadikan semuanya lebih mulia.

Kita berkarya,
bukan untuk berpamrih,
namun untuk mempersembahkan apa-apa yang telah dititipkan, bagi kita, orang lain, dan bagi semesta.

Kita berdoa,
bukan untuk menuntut,
namun untuk mensyukuri yang telah ada, yang sedang ada, dan akan ada.

Kesemuanya merupakan perjalanan,
yang awalnya kita pasrahkan,
yang akhirnya kita serahkan.

Kesemuanya merupakan perjalanan.
Perjalanan menjadi sejatinya kita,
yang sengaja diciptakan.
yang sengaja dihadirkan.

Dari percikan yang berpendar, menjadi percikan yang bercahaya.
Sesuai dengan gemerlap yang dititipkan.
Sesuai dengan kilau yang dianugerahkan.
Sehingga akhirnya, kita bisa bersimpuh kembali ke Cahaya diatas seluruh cahaya-cahaya.

Karenanya,
Berpendarlah, hanya itu cara mendekati akhir yang termudah.
Bercahayalah, hanya itu cara menggapai akhir yang paling mulia.