Productivity is about Completion

August 13, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Kapan PA anda terakhir? Bagaimana hasilnya? Orang-orang kantoran tentu paham betul arti dua huruf ini. Bagi teman-teman yang masih awam, PA (performance assessment) atau evaluasi kinerja adalah istilah paling lazim dalam organisasi untuk menentukan pencapaian kerja pada kurun waktu tertentu. Walaupun tidak selalu tepat, banyak yang meyakini kalau PA adalah penentu keberlangsungan seorang pekerja dalam organisasi – dan penetap kompensasi (baca: duit) yang bisa dibawa pulang. Sedemikian pentingnya sehingga banyak perusahaan mengalokasikan dana yang tidak sedikit untuk membangun sistem canggih guna memonitor kinerja para pekerjanya. Sejalan dengan itu, tidak mengherankan jika bisnis perangkat penilaian kinerja individu dan manajemen sudah menjelma jadi industri milyaran dollar.

Nah, sekarang pertanyaan paling mendasar adalah ini: Apakah kinerja selalu sama dengan produktivitas? Menurut logika semestinya sama. Hasil PA yang bagus dalam periode tertentu seharusnya juga berarti produktivitas yang baik. Sehingga kenaikan kompensasi jadi sangat wajar – lha wong sudah berkontribusi lebih besar, tentu wajar diganjar lebih banyak. Problemnya seringkali, bahkan cenderung terlalu sering, keduanya tidak berhubungan. Tidak jarang penetapan PA terlampau mengacu pada proses semata tanpa memperhitungkan pelaksanaan peran dan penuntasan tugas. Lebih jauh dari itu, rancang bangun satuan kerja pada organisasi yang semakin besar (dan birokratis) semakin memperkecil cakupan peran pada masing-masing pekerjaan. Bayangkan organisasi dengan ratusan, ribuan atau bahkan belasan ribu pegawai – tentu tidak mudah melihat, memahami dan memaknai peran seorang pekerja diantara begitu banyak yang lain. Bayangkan peran sebuah sekrup kecil dalam sebuah mesin besar. Celakanya si sekrup tidak akan pernah tahu perannya tanpa dia tahu berada di mesin apa dan untuk apa.

We’re getting busy with routine, but not necessarily more productive. Saat PA menjelma jadi formalitas belaka untuk memberi validasi keberlangsungan kerja dan kenaikan gaji, maka organisasi justru telah melemahkan produktivitas pekerja. Kenapa? Karena dia hanya sekedar menjalankan dan menjadi bagian dari rutinitas tanpa makna. Karena dia tidak lagi merasakan perannya dalam penuntasan tugas.

Completion brings energy. Produktivitas pada individu bukan sekedar soal output sebagaimana sebuah pabrik. Produktivitas tidak serta merta terukur dari besaran gaji, lama bekerja atau jabatan seseorang. Produktivitas individu terletak pada kemampuan diri menuntaskan segala hal yang dianggap penting dalam proses tumbuh kembangnya dalam organisasi.

Your productivity is about the completion of your own creation. Anda tentu pernah merasakan kepuasan setiap kali selesai melakukan aktivitas atau menghasilkan karya tertentu. Ada campuran rasa lelah tapi lega, khawatir tapi puas dan pertanyaan pada diri sendiri: What next after this? Bisa jadi ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan atlet triathlon saat melewati garis finish. Atau yang dirasakan seorang penari saat baru saja menyelesaikan sebuah pagelaran. Penuntasan memberi kepuasan. Dan kepuasan adalah energi untuk produktivitas.

Jadi harus bagaimana? Produktivitas tidak ditentukan oleh orang lain atau alat ukur kinerja manajemen. Produktivitas diri ditentukan dari kebisaan dan kebiasaan untuk menjalankan peran yang disepakati dengan tuntas. Penuntasan aktivitas (yang relevan dan penting) memberi keyakinan untuk mengambil peran lebih besar. Penuntasan karya memberi energi untuk melangkah kedepan dengan lebih percaya diri, lebih berani dan lebih peduli. Are you doing what’s important as your urgent ones? Or are you doing what’s urgent, your important one? Your answer give some clues on how productive you are at this moment 
Bagaimana menururut teman-teman. Colek kami di @ImpactFatoryID 🙂