Derap Kelima: BENAMKAN RAGA

August 13, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Ketika kecerdasan telah hadir,
kita perlu bersegera bertindak.
Dengan membenamkan raga.
Tenggelam dalam upaya menghasilkan karya.
Berkaryalah demi karya itu sendiri.
Bukan karena tepukan di punggung.
Bukan karena pujian di bibir.
Bukan pula karena hadiah di panggung.

Berkarya adalah berproses.
Akibat sadar yang disengaja.
Akibat nafas yang terjaga.
Akibat syukur yang dipanjatkan.
Akibat nalar yang ditajamkan.

Karya kita adalah ekspresi sejatinya kita.
Karya kita adalah persembahan kita.
Karya kita bukanlah sekedar hasil.
Karya kita adalah upaya.
Karya kita adalah cerita.

Cerita tentang keingintahuan.
Cerita tentang kegigihan & air mata.
Cerita tentang keterbatasan & keterbebasan,
Cerita tentang berbagi & pengabdian.
Cerita tentang kebersamaan & kewelas-asihan.
Cerita tentang kebahagiaan.
Cerita tentang cahaya yang dititipkan.

Yang memberikan keteladanan.
Yang akan dilanjutkan oleh yang lain.
Yang menorehkan makna hingga nanti.

Bersegeralah dalam berkarya.
Namun janganlah terburu-buru.
Semuanya sudah menunggu, untuk kita raih.
Semuanya akan menunggu, selama kita kerap berlatih.

Ketika kita mencoba mendahului waktu, kita tidak menjadi kita.
Ketika kita mencoba mendahului waktu, kita tidak bersama semesta.
Ketika kita mencoba mendahului waktu, kita tidak terjaga dan dijaga.
Karena waktu akan bersama mereka yang berkarya dalam kesadaran dan kebersyukuran.
Karena semua ada waktuNya.

Berkaryalah dengan membenamkan raga kita.
Agar kita menjadi kita.
Tanpa harus menjadi yang lain.
Karena setiap orang telah ditetapkan untuk membawa cahayanya sendiri.

Karena memang cahaya-cahaya yang diturunkan ke bumi hadir untuk saling melengkapi.
Karena memang cahaya-cahaya yang diturunkan ke bumi hadir untuk saling mengingatkan.
Dalam kesabaran.
Dalam kebaikan.