Derap Keempat: TAJAMKAN NALAR

August 9, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Bernalar adalah fitrah.
Bernalar hanya akan bermakna, ketika diawali dengan hadirnya sadar.
Karena, sekali lagi, kesadaran, menjernihkan.

Bernalar hanya akan tajam, ketika dikawal dengan rasa syukur.
Karena, sekali lagi, syukur adalah energi.

Ketika jernih (karena sadar) …
dan energi (karena syukur) bergabung,
maka nalar akan menjadi tajam.

Nalar yang tajam adalah kecerdasan.

Yang cerdas siap mencoba.
Bukan coba-coba, namun gigih meraih.
Bukan mencoba serius, namun serius mencoba.

Yang cerdas akan menggali melalui karya.
Karena karya adalah bukti nalar.

Yang cerdas tak akan pernah sendiri, walau siap untuk mandiri.
Karena kerja sama adalah cerdas yang saling mencerdaskan.

Bagi yang cerdas, berkarya adalah ekspresi diri
Karena mulia adalah dimataNYA.
Karena tenar adalah ditelingaNYA.

Bagi yang cerdas, masalah tak pernah ada.
Semuanya adalah kehadiran yang disengaja.
Semuanya adalah ilmu yang bermanfaat.
Semuanya adalah anugerah.

Bagi yang cerdas, gagal tak pernah ada.
Karena sukses tak pernah berupa hasil.
Karena sukses senantiasa berproses.
Karena sukses adalah cerita yang ditinggalkan, bukan aset yang dihasilkan.

Bagi yang cerdas, hidup adalah sabda.
Untuk dibaca.
Untuk diasah.
Untuk dikaryakan.
Untuk disebarkan.

Kecerdasan perlu fokus.
Kecerdasan perlu keheningan.
Kecerdasan perlu mendengar,
Kecerdasan perlu merasa.
Kecerdasan perlu kesyukuran.

Karenanya:
Hadirkan jiwa,
Ikhlaskan rasa,
Syukuri semesta,
Agar kecerdasan hadir.

Ya, cerdaslah!
Karena kita diciptakan melalui Kecerdasan Tertinggi.
Karena kita dihadirkan dengan tujuan yang mulia.

Dan sebaik-baiknya kecerdasan adalah yang mencerdaskan.
Dan semulia-mulianya kecerdasan adalah yang memanusiakan.
Bagi dirinya.
Bagi orang lain.