Derap Ketiga: SYUKURI SEMESTA

August 7, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Ketika ikhlas telah sengaja dihadirkan,
… melalui jiwa yang sadar…
… mengawal anugerah nafas yang diberikan ….
maka bekal terbaik untuk melangkah selanjutnya
…adalah dengan bersyukur.

Ya, bersyukur!

Syukuri raga yang hadir.
Syukuri nafas yang hadir.
Syukuri rasa yang hadir.
Syukuri nalar yang hadir.
Syukuri semesta yang hadir.

Karena kita memang sengaja dihadirkan
Dan semesta juga dihadirkan untuk kita.
Sengaja dianugerahkan
Sengaja disabdakan.
Untuk kita.

Bagi kita…
Bagi kita yang bersengaja hadir.
Bagi kita yang berupaya memperhatikan hidup kita.
Bagi kita yang mensyukuri nafas kita.
Bagi kita yang mensyukuri nalar kita.
Bagi kita yang mensyukuri karya kita.

Yang hadir belum tentu yang kita minta.
Yang hadir belum tentu yang kita inginkan.
Namun, yang hadir senantiasa yang kita butuhkan.

Bukankah petir yang datang mengawali air sumber kehidupan?
Bukankah gunung meletus mengawali tanah yang subur?
Bukankah ulat buruk rupa mengawali kupu kupu yang merona?
Bukankah daun yang mati menyuburkan sekitarnya?

Karena Yang Maha Tahu senantiasa Yang Maha Memberi.
Yang tidak kita mintapun senantiasa dicukupkan.

Karenanya amatilah semesta.
Karenanya dengarlah semesta.
Karenanya bacalah semesta.

Karena Semesta senantiasa bersabda.
Karena Semesta senantiasa menjaga.

Setiap saat.
Bagi kita.
Untuk kita.
Demi kebaikan kita.

Bersyukur adalah energi.
Ia membuka mata hati. 


Bersyukur adalah makna.
Ia memberikan arti.

Bersyukur adalah ide.
Ia adalah janin karya.

Bersyukur adalah kasih.
Awal welas asih bagi sekitar kita.

Bersyukur adalah pintu bahagia
Untuk dirasa, untuk disebarkan.

Bersyukur…
Hanya dengan itu, kehadiran kita pantas untuk disyukuri.