Derap Kedua: RASAKAN HATI

August 6, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Nur yang dititipkan bersemayam di hati.
Yang hanya berpendar ketika hati jernih, bening dan bersih.
Hati yang beku, tak kuasa merasa.
Hati yang beku, akan takluk pada nalar.
Hati yang beku, memendam dendam.
Jernihkan hati.
Bersihkan hati.
Agar ia bisa merasa.
Rasa yang membaca sabda.
Rasa yang akan menghasilkan karya.

Hati kita adalah milik kita.
Namun kita bukanlah rasa kita.
Rasa bisa datang.
Rasa bisa pergi.
Kita ada, ketika rasa datang.
Kitapun tetap ada, ketika rasa pergi.
Karenanya, kita bukanlah rasa kita.

Jangan kita jadikan rasa yang hadir melingkupi kita.
Amati,
akui,
dan sapa,
rasa yang hadir.

Jangan terlalu dipeluk erat, dan jangan terlalu dihempaskan jauh.
Mengelola rasa bukan menaklukan rasa.
Mengelola rasa bukan membenarkan rasa.
Mengelola rasa bukan menyalahkan rasa.
Mengelola rasa adalah menerimanya.
Mengelola rasa adalah mengikhlaskannya.

Ya, dengan ikhlas!
Berserah diri.
Karena kita tidak pernah memiliki.
Kita adalah titipan bagi yang lain.
Dan yang lain dititipkan untuk kita.

Hati yang ikhlas membuat kita mudah merasa.
Tentang kita.
Tentang cara kita melihat kita.
Tentang cara kita melihat semesta.
Karena dengan itulah Semesta melihat kita.

Hati yang ikhlas memudahkan kita untuk membaca pesan.
Pesan yang perlu dimaknai.
Hati yang ikhlas memudahkan kita untuk menimba ilmu.
Ilmu yang perlu diolah serta diasah.
Untuk kemudian menjadi karya.

Karena pesan dan ilmu hanya bisa dibaca oleh mereka yang sengaja hadir
Karena pesan dan ilmu hanya disabdakan bagi mereka yang sengaja membersihkan hatinya.
Karena pesan dan ilmu hanya bisa dicerna bagi mereka yang memiliki hati yang ikhlas.

Hati yang ikhlas menyembuhkan.
Hati yang ikhlas membekali energi.
Hati yang ikhlas menerangi.
Kita dan sekitar kita.