Derap Pertama: HADIRKAN JIWA

August 5, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Segalanya bermuara dari diri sendiri.
Di sini.
Di saat ini.
Bersengaja untuk sadar.
Sadar akan kehadiran kita.
Ketika kita bersengaja hadir, maka jiwa yang ada pun hadir.
Ketika kita bersengaja hadir, maka semesta akan menghadirkan dirinya untuk kita.

Semesta yang hadir, pintu dari semua ilmu.
Semesta yang hadir, pintu dari semua petunjuk.
Semesta yang hadir, memberi berkah, memberi hikmah.

Semesta hanya akan hadir, bagi mereka yang sengaja menghadirkan jiwanya.
Semesta hanya akan hadir, bagi mereka yang sadar untuk hadir.
Ya, mulailah semuanya dengan hadir.
Hadir dengan sengaja;
Hadir dengan seutuhnya.

Kehadiran yang utuh diawali dengan nafas kita.
Nafas pertanda jiwa.
Nafas pertanda kehadiran.

Perhatikan nafas kita.
Bukan sekadar bernafas.
Namun memperhatikan nafas kita.
Ya, memperHATIkan.
Menggunakan HATI sebagai indra untuk merasakan nafas kita.

Nafas yang mengalir perlu kita perhatikan – dengan hati.
Kita perhatikan udara yang keluar dari rongga hidung kita.
Kita perhatikan udara yang masuk melalui rongga hidung kita.
Kita perhatikan naik turunnya bahu kita.
Kita perhatikan kembang kempisnya dada kita.
Kita perhatikan kembang kempisnya perut kita.

Kita bukan sekadar mengamati.
Kita memperHATIkan.
Membaca dengan hati.
Agar rasa pun hadir, menemani jiwa yang hadir.

Ketika rasa sengaja dihadirkan, maka:
Nafas mulai dirasakan sebagai anugerah.
Tidak semuanya diberikan nafas ini, di saat ini, disini.

Nafas mulai dirasakan sebagai kesempatan.
Karena nafas adalah awal segalanya.

Nafas mulai dirasakan sebagai kesengajaan yang turun dari langit.
Bukan kebetulan.

Nafas mulai dirasakan sebagai tanda kehidupan.
Kehidupan yang menghidupkan, bukan sekadar menghidupi.

Nafas mulai dirasakan sebagai sesuatu yang berpasang-pasangan.
Ada yang masuk, ada yang keluar.

Nafas mulai dirasakan sebagai makna.
Makna menerima dan memberi.
Nafas masuk bermakna menerima, dan nafas keluar bermakna memberi.
Nafas masuk bermakna berkah, dan nafas keluar bermakna berbagi berkah.

Nafas juga dirasakan sebagai energi
Tak mungkin kita berbagi tanpa energi menerima.
Tak mungkin kita menerima tanpa energi berbagi.
Sebagaimana mana tak mungkin menghembuskan tanpa menarik nafas.

Dan diantara menerima dan memberi …
Diantara tarikan dan hembusan nafas, ada jeda.
Jeda yang sengaja dihadirkan
Jeda yang mewartakan hening.

Semakin diperHATIkan, semakin mudah dirasakan keheningan itu.
Dalam jiwa, ada nafas.
Dalam nafas, ada hening.
Dalam hening, hati kian terasa.

Heninglah wahai jiwa yang hadir.
Karena hening menghadirkan rasa.
Gerbang dari segala sabda.