We Always Get the Leader We All Deserve

August 4, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Tempo hari saya melakukan riset kecil-kecilan dengan mengajukan pertanyaan pada orang-orang yang saya jumpai untuk memberikan penilaian tentang atasan mereka. Supaya tidak ribet saya hanya minta mereka memberikan nilai antara 1 sampai 10. Angka 1 mengindikasikan boss dari neraka sementara 10 bisa diberikan pada atasan terbaik yang pernah hadir dalam kehidupan seseorang. Saya bertanya pada sekitar 20 orang tanpa harus menyebut identitas dan tanpa perlu ada data pendukung berupa laporan kinerja atasan atau hasil test psikologi si boss – sehingga tentunya riset ini sangat tidak ilmiah dan sekedar untuk menangkap sentimen semata. Apa hasilnya? Lebih dari 50% memberi angka standar 6 atau 7. Sementara sekitar 30% memberi penilaian 5 atau kurang pada si boss. Dan hanya 20% dari total responden memberi angka 8 atau lebih. Oh, menariknya tidak ada satupun yang memberi si boss angka 10.

Kita selalu bisa, bahkan cenderung mudah beropini tentang atasan – dan hampir selalu, sebagian besar diantara kita relatif kritis dalam memberikan penilaian. Bagaimana tidak? Setiap gerak langkah para pemimpin otomatis jadi perhatian anak buah. Setiap orang yang dijumpai senantiasa jadi materi perbincangan. Dan setiap keputusan yang diambil bisa jadi bahan perdebatan. Singkatnya, tidak ada satupun orang yang cukup memadai untuk jadi pemimpin bagi semua orang. Hal ini sedemikian rupa sehingga jika diberi kebebasan untuk memilih atasan sendiri, maka hampir pasti kita akan mengganti sang atasan dengan orang lain – atau mungkin dengan diri sendiri. Bagaimana dengan anda?

There is no perfect leader because none of us is perfect. Opini, diskusi dan pembahasan soal pemimpin – baik untuk tingkat unit, organisasi atau bangsa – senantiasa diilhami oleh tuntutan akan keadian dan harapan akan hari esok yang lebih baik. Kenapa kita sedemikian kritis pada perilaku atasan? Karena kita senantiasa butuh kepastian bahwa keadilan telah, masih dan akan terus ditegakkan.

Error free leadersip only exist in our imagination. Keadilan? Contohnya pada kombinasi antara pertanyaan & pernyataan seperti ini: “Kenapa saya harus meluangkan waktu 1 jam lebih lama di kantor sementara si boss sudah berhari-hari tidak terlihat?” – atau “Kenapa saya harus berinisiatif jika pak manajer hanya pasif menunggu instruksi?” Dan seterusnya.

The only thing stronger than fear is hope. Harapan? Bangsa ini, Indonesia, belum lagi melewati usia 70 tahun namun dari sisi kekuatan ekonomi sudah berdiri diantara 10 negara terbesar di dunia – bahkan telah mengalahkan negara Belanda yang pernah menjajah nusantara selama lebih dari 3 abad. Apa jadinya Indonesia 70 tahun kedepan? Bagaimana orang Indonesia bisa mendayagunakan segenap potensi bangsa? Jawaban apapun adalah refleksi harapan dari, oleh dan untuk orang Indonesia.

Awesome leadership is about failing better. Siapapun yang didaulat jadi pemimpin adalah sekedar hasil dari rangkuman proses pikir, rasa dan tindakan setiap individu yang dipimpin. Pemimpin buruk adalah wujud dari ketidakpedulian, kepongahan dan kemalasan para pengikutnya. Sebaliknya, tidak ada pemimpin keren bisa hadir tanpa didahului keteladanan, keadilan dan keberanian para pendukungnya.

Pemimpin baru Republik Indonesia telah terpilih. Kehadiran Jokowi adalah wujud tuntutan banyak orang Indonesia akan keadilan (dari, oleh dan) bagi seluruh rakyat Indonesia – dan hari esok yang lebih baik. Dia tidak sendiri – pada saat yang sama bermunculan banyak pemimpin keren mulai dari Ridwan Kamil di Bandung, Bima Arya di Bogor, Ganjar Pranowo di Jawa Tengah Tri Risma Harini di Surabaya dan lainnya. Pertanyaannya sekarang bukan berapa nilai mereka, namun apa peran yang akan anda, saya dan kita ambil dalam proses panjang bernama “melunasi janji kemerdekaan” ini? In the end, we always get the leader we all deserve.