Focusing on Getting Better is Better than Being Good

August 2, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Coba bayangkan ruang-ruang kelas tempat terjadinya interaksi guru dan murid-muridnya setiap hari di Republik ini. Kira-kira hal apa yang lazim diucapkan oleh guru setiap kali si murid berhasil memecahkan soal yang diberikan? Jika menjadikan pengalaman sendiri sebagai referensi, saya yakin sebagian besar guru akan menggunakan kalimat seperti “Ya, jawabanmu benar. Kamu memang pintar!” atau “Wah, pandai sekali kamu sudah menjawab dengan benar” atau beragam komentar senada lain. Pandai, pintar, cerdas – ini adalah pilihan kata-kata kunci yang sering digunakan banyak guru sebagai bentuk apresiasi pada murid-muridnya. Positif dan tidak jelek, apalagi jika dibandingkan dengan komentar sebaliknya saat si murid melakukan kesalahan atau gagal menjawab. Positif dan tidak jelek namun cenderung tidak memberdayakan.

Seringkali mereka yang disebut pandai karena berhasil menjawab soal tertentu, bakal merasa bodoh saat gagal menjawab soal lainnya. Hampir selalu mereka yang dibilang cerdas karena meraih nilai tinggi, bakal merasa tidak cerdas saat hanya memperoleh nilai pas-pasan. Kenapa nilainya tinggi? Karena dia sudah cerdas dari sananya. Kenapa dia pandai? Karena bapak-ibunya dan adik-kakaknya juga pandai. Dalam konteks ini kecerdasan secara sempit dilihat sebagai faktor bawaan atau genetik semata. Coba bandingkan dengan komentar seperti ini: “Wah, jawabanmu benar – hebat sekali usahamu dalam mencoba berbagai alternatif jawaban yang ada.” Atau “Tidak masalah jawabanmu salah, tapi saya suka upaya gigihmu yang pantang menyerah. Itu keren!” Kira-kira jika anda sebagai guru, komentar mana yang akan anda pilih?

Be good VS Get better. Cerita pada dua paragraph diatas mengilustrasikan perbedaan diantara 2 perspektif dalam mempengaruhi proses tumbuh kembang murid yaitu Be Good dan Get Better. Prinsip Be Good adalah soal pembuktian apakah seseorang pandai atau sebaliknya. Gifted atau tidak, dan seterusnya. Prinsip ini cenderung bersifat statis dan sempit dalam memandang talenta – sebagai sesuatu yang telah dianugrahkan dan sudah dimiliki tanpa harus melakukan banyak upaya.

Focusing on getting better is better than being good. Problem terbesar dari prinsip be good adalah saat harus berhadapan dengan situasi lebih sulit atau saat diperbandingkan dengan orang lain. Sebaliknya, prinsip get better berorientasi pada proses tumbuh kembang dalam diri sendiri. Kecerdasan, kepandaian dan kepintaran adalah bentuk lain dari kegigihan bergulat dengan masalah, keberanian mencoba hal-hal baru dan kesabaran untuk menekuninya.

The kind of feedback we get has a major impact on our beliefs about our own abilities. Perbedaan prinsip dalam proses tumbuh kembang murid/anak dipastikan akan berdampak jangka panjang – dan membentuk keyakinan diri saat harus berhadapan dengan hal-hal sulit, kegagalan dan dalam menentukan pilihan pekerjaan, karier dan kehidupan. Menurut anda prinsip mana yang akan memberi peluang lebih besar bagi anak untuk jadi kreatif dan inovatif?

It’s okay to fail as long as you learn from it. Hal utama pada prinsip get better adalah keberanian untuk mencoba dan gagal. Bukan karena merencanakan diri untuk gagal namun keyakinan bahwa gagal bukan alasan untuk berhenti mencoba. Bisa jadi mereka yang siap menerima kegagalan justru akan lebih jarang gagal dibandingkan mereka yang dengan segala cara berupaya untuk tidak gagal.

Proses tumbuh kembang seseorang tidak semata ditentukan oleh kecerdasan dan talenta yang melekat dalam dirinya, namun lebih jauh ditentukan oleh kegigihan berusaha, keberanian mencoba dan kesabaran. Setiap orang punya talenta, namun apa artinya jika tidak dilatih, ditajamkan dan ditumbuhkembangkan. It’s never about how good you are at anything; It’s about whether you enjoy the process of getting better every step of the way.

Bagaimana menurut teman-teman? Colek kami di @ImpactFactoryID 🙂

  • Setuju banget. Dalam pendidikan yang harus dipacu adalah semangat terus belajarnya. Anak yang dari sononya sudah ber-IQ tinggi dapat nilai 70 itu wajar. Tidak perlu dipuji justru harus di-push agar bisa lebih baik. Sedangkan yang IQ nya sedang, dapat nilai 70 patut dapat pujian.

    Dulu sewaktu saya sempat menjadi dosen, saya menggunakan 2 standar:
    1. Nilai minimal harus 70
    2. Nilai hari ini harus lebih besar dari nilai kemaren2.

    • admin

      Hai Steven, kami sekarang sedang bermain dengan inisiatif baru kami bernama @LimitlessCampus, jika berkenan monggo sapa kami di twitter 🙂