Winning to Lose or Losing to Win?

July 27, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Saya beruntung dibesarkan sebagai anak semata wayang oleh orang tua yang berkecukupan. Sejak masih merangkak hingga akhirnya keluar rumah sendiri, tidak ada rebutan mainan, tidak ada keharusan untuk berbagi dan tidak ada rivalitas antar saudara kandung atau dalam istilah kerennya sibling rivalries. Semua mudah walaupun tidak selalu dimudahkan. Apapun dalam batasan wajar bisa diperoleh tanpa harus banyak berusaha. Ayah, ibu, pakde dan keluarga terdekat sudah hapal benar dengan ketidaksiapan saya untuk menerima kekalahan. Mulai dari mainan mobil-mobilan listrik hingga catur – semua harus saya menangkan. Jika perlu permainan dilakukan berkali-kali hingga saya menang. Atau tidak jarang juga saya “mengintervensi” permainan hingga kemenangan berhasil diraih. Menjelang kekalahan yang pasti, tidak jarang saya mogok main dengan ngeloyor pergi tanpa alasan jelas.

Sehingga tidak mengherankan jika “keberuntungan” yang saya nikmati ini adalah juga sumber kekhawatiran terbesar orang tua – terutama ibu saya. Apakah saya bisa bersaing dengan sehat dalam masyarakat? Bagaimana saya menghadapi kekalahan, kegagalan dan kekecewaan? Tanpa perlindungan keluarga, apakah saya bakal mampu berinteraksi sehat dengan siapapun dimanapun dan kapanpun? Jika saya sekarang punya mesin waktu untuk berjumpa saya pada masa-masa itu hampir pasti saya tidak akan menyukainya. Bagaimana tidak? Saya – pada masa itu – adalah anak tidak tahu diri yang sudah memperoleh begitu banyak keberuntungan tapi cuma bisa berpikir untuk dirinya sendiri.

Winning and losing is just part of the game. Butuh waktu lama dan proses panjang untuk benar-benar memahami esensi dari setiap perlombaan adalah bakal ada yang menang dan yang kalah. Kemenangan selalu manis, melegakan dan memberdayakan – sehingga tidak jarang apapun diwajarkan untuk meraihnya. Kekalahan, sebaliknya, pasti terasa pahit, melelahkan dan menyakitkan – terlebih saat keyakinan menang sudah menguasai diri. Apa boleh buat, keduanya bakal selalu terjadi dalam setiap pertandingan.

Playing to win is not the same as being a sore loser. Kehidupan demokrasi juga sama, terlebih dalam proses pilpres yang baru saja kita lalui. Panutan saya @AniesBaswedan pernah berujar kalau esensi demokrasi bukan terletak pada yang menang, namun bagaimana yang kalah memilih untuk bersikap. Dalam konteks ini, kelapangan hati yang kalah saat menerima kekalahan adalah pupuk demokrasi yang lebih ampuh dibandingkan kebesaran hati sang pemenang.

What matters most is not how we win, but how we loose. Kelapangan hati tidak pernah mudah dipilih – tapi bukan tidak mungkin. Kenapa? Karena jauh lebih mudah untuk tunduk pada kuasa ego sendiri. Karena jauh lebih gampang menerima kebenaran sudut pandang diri dan kelompok sendiri. Sayangnya, apa yang mudah belum tentu benar. Dan apa yang sesuai dengan tuntutan ego seringkali adalah jalan tercepat menuju kemarahan, kekecewaan dan penderitaan.

Bagaimana keadaan saya sekarang? Mudah-mudahan sudah lebih baik daripada saat kanak-kanak dulu – semua berkat tempaan pendidikan orang tua dan para mentor saya. Walaupun tidak jarang harus menerima komplain dari istri tercinta saat egoisme-anak-tunggal sedang kambuh, secara umum saya masih diperkenankan tidur disamping dia  Bagaimana dengan negara kita? Syukuri proses demokrasi yang sudah berjalan baik. Ucapkan terima kasih pada para pelaku yang sudah memberi contoh baik dan sebaliknya – semua adalah pelajaran berharga untuk segenap anak bangsa. Tulisan ini saya tutup dengan menyitir tulisan penulis & filsuf favorit saya Fyodor Dostoyevsky: “It’s not whether you win or lose, it’s how people will remember you when you die.”