Characters Determines Reputation

July 14, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Jika anda dan saya sepakat untuk menamai lembaran koran yang anda pegang sekarang dengan sebutan selain “koran” – sebut saja “pel basah”, maka secara obyektif, bagi kita berdua, koran sudah tidak ada lagi dan diganti sepenuhnya oleh “pel basah.” Saat dimunculkan dalam beberapa kalimat bunyinya bakal terkesan lucu seperti ini “Selamat pagi, sudah baca pel basah pagi ini?: Atau dalam bentuk lain: “Wah, ada berita seru apa di pel basah yang sedang anda pegang?”… dan seterusnya. Sudah pasti terdengar aneh – bahkan cenderung seperti materi standup comic buat orang lain yang tidak mengerti kesepakatan kita, namun dalam semesta anda dan saya, penyebutan pel basah normal dan wajar saja.

Maaf kalau anda bingung dengan pemaparan saya pada paragraph awal diatas. Sama sekali tidak ada maksud mengacaukan pikiran anda – terlebih jika sudah kacau seperti saya  Saya hanya ingin mengilustrasikan keanehan hal-hal normal – atau mungkin lebih tepat disebut sebagai kenormalan hal-hal aneh dalam pesta demokrasi kita, secara spesifik pada proses perhitungan cepat (quick count) pilpres yang berlangsung Kamis, 9 Juli 2014. Penting untuk dicatat kalau saya bukan konsultan politik, ahli statistik atau pakar survey – Ini adalah upaya orang awam memahami apa yang sedang terjadi. Bagaimana tidak membingungkan saat dua calon pemimpin bangsa merasa menang dari proses hitung cepat yang dikerjakan beberapa lembaga berbeda? Saat hasil akhirnya berbeda – tentu tidak mungkin semuanya salah sebagaimana juga tidak mungkin semuanya benar. Jika demikian, bagaimana bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah?

The message is right when the content is true and the messenger is honest. Pesan benar butuh 2 komponen pembentuk yaitu isi pesan yang sahih dan pembawa pesan yang jujur. Kebenaran isi pesan sebagaimana cerita “pel basah” tergantung dari kesepakatan tentang apa yang dipercaya sebagai kebenaran. Tentu ada kebenaran absolut seperti matahari terbit di timur dan tenggelam di barat, tapi pembahasan berbau teologis ini sengaja saya kesampingkan agar tidak terlampau njelimet.

The thief thinks everybody steals. Komponen kedua adalah kejujuran pembawa pesan. Bisa jadi ini tergantung pada karakter yang bersangkutan saat berhadapan dengan situasi tertentu. Bukan soal karakter bagus atau jelek namun bagaimana karakter terbentuk dari setiap keputusan hidup yang diambil. Pilihan benar tentu tidak terlampau sulit dipilih saat pilihan lain terasa tidak benar – namun bagaimana jika ada insentif untuk memilih yang salah. Bagaimana jika insentifnya teramat sangat besar sehingga akan sangat berpengaruh pada standard dan kualitas hidup?

Character is what you are. Reputation is what people think you are. Tentu anda bakal keberatan mengganti kata koran dengan pel basah dalam konteks diluar becandaan. Bisa jadi anda akan tampak bodoh – dan reputasi andapun akan rusak. Namun bagaimana jika ada tawaran Rp 100 ribu setiap kali anda menyebut pel basah untuk koran? Masih kurang? Bagaimana dengan 1 juta? 10 juta? 100 juta? Atau 1 milyard? Pada titik mana uang bisa menutup rasa malu anda karena tampak bodoh? Itulah titik saat orang paling pandai menggunakan hak untuk jadi bodoh.

Kembali ke obrolan hitung cepat, cara termudah adalah menunggu hasil hitung lengkap dari KPU, lembaga yang resmi dimandatkan untuk peran ini. Namun diluar itu hal yang paling menyesakkan dari peristiwa ini adalah bagaimana penggunaan hak untuk memilih jadi bodoh berdampak luas pada proses pembodohan massal. Tanpa karakter, tidak ada reputasi. Dan tanpa reputasi, tidak ada lagi yang bisa ditawarkan dalam kehidupan. Semoga bangsa ini diberi keberkahan pemimpin yang waras, adil dan berkarakter. If I take care of my character, my reputation will take care of itself – D.L. Moody.