The Truth About The Truth

July 10, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Jadi siapa sebenar-benarnya Rene Suhardono? Apakah ini soal judul pekerjaan yang saya lakoni sekarang, atau dimana saya tinggal atau mobil apa yang saya kendarai setiap hari? Atau bisa jadi berhubungan dengan rekam jejak saya dari dulu sampai hari ini – Siapa orang tua saya? Dengan siapa saya dibesarkan? Jenjang pendidikan apa yang saya tempuh, di sekolah apa? Bekerja dimana? Sebagai apa? Siapa rekan kerja saya? Siapa atasan saya? Apa saja karya-karya saya? Dan beragam kriteria lain yang bisa dijadikan pertimbangan. Sejujurnya, sebenar-benarnya tentang saya tidak ada yang tahu sepenuhnya kecuali saya sendiri dan Sang Pencipta Yang Maha Tahu. Apapun yang anda lihat adalah kesan yang ingin saya tinggalkan pada anda – berpadu dengan persepsi yang terbentuk dari pengalaman, perasaan dan pemikiran anda sendiri tentang saya.

Jika saya memajang photo saat baru selesai menunaikan ibadah umrah di Mekah lengkap dengan ihram dan Kabah pada bagian belakang gambar – bisa jadi terbentuk persepsi bahwa saya seorang muslim yang taat. Jika kemudian saya memamerkan photo bersama beberapa orang beken, bisa jadi karena saya ingin membentuk persepsi bahwa sayapun beken. Dalam wujud lain bisa saja cara saya bertutur kata yang sopan didepan anda membentuk persepsi kalau saya terpelajar, sabar dan baik hati. Bagaimana saya bersikap dirumah dan terhadap wong cilik hanya segelintir orang yang tahu.

The greatest truths are always simple. Apa jadinya jika saya mencalokan diri untuk sebuah posisi penting yang melibatkan hajad hidup orang banyak seperti Presiden Republik Indonesia misalnya? Bisa jadi segala hal tentang saya harus dan wajib diteliti untuk memastikan saya adalah pilihan terbaik diantara pilihan-pilihan yang ada. Proses ini wajar hingga ada pihak yang merasa perlu saya tidak menduduki jabatan tersebut – apapun alasannya. Dalam kondisi ini apapun dihalalkan – bahkan diwajarkan.

Lies! Lies! I can’t believe a word you say. Photo selepas ibadah umrah? Sebut saja itu sebagai ajang unjuk pamer yang bertentangan dengan nilai-nilai agama Islam. Terlebih wajah saya yang tidak terlalu Indonesia, bisa jadi sasaran tembak soal kemurnian darah saya. Photo bersama orang beken? Jika mereka orang asing – sebut saja saya sebagai antek asing. Jika mereka perempuan – sebut saja saya sebagai tukang selingkuh. Tidak ada yang tidak mungkin saat pikiran sudah dikuasai persepsi tertentu, terlebih jika memperoleh insentif dalam bentuk apapun yang menarik.

Perhaps the greatest of the truths is truth itself. Jadi siapa sebenar-benarnya Rene Suhardono dalam kondisi penuh prasangka seperti ini? Jawabannya terlalu mudah: Saya bisa jadi siapapun – melakukan apapun sesuai dengan yang anda sangkakan. Selama tidak ada ketertarikan untuk benar-benar memperoleh kebenaran maka percuma saja apapun bukti, penjelasan, cerita yang saya tawarkan.

The best thing about the truth is you feel good about it. Apa yang bisa saya lakukan? Tidak ada. Hal terbaik soal kebenaran adalah rasa nyaman yang datang bersamanya. Selama saya percaya saya tidak melakukan atau menjadi apapun yang anda sangkakan, saya bisa baik-baik saja. Jika saya belum bisa baik-baik, artinya bisa jadi saya mulai mempercayai apapun yang disangkakan.

Fitnah, black campaign, berita bohong terasa semakin menyesakkan menjelang pemilihan presiden tanggal 9 Juli 2014 minggu depan. Masing-masing dari kita punya pilihan untuk terlibat langsung meramaikan, tidak peduli atau menyuarakan hal positif. Lagipula bagaimana cara membersihkan mata air yang keruh? Jawabannya adalah dengan membiarkan partikel kotor turun dan memberi kesempatan pada air bening untuk mengaliri mata air tadi hingga jernih kembali. Always remember, the truth withstands every test. It fears no trial. Time to cast our vote based on our consciousness, not transaction.

152