The Illusion of Objectivity

June 30, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Semua orang tua pasti punya cara pandang tersendiri tentang anak-anak mereka, terlebih untuk yang belum beranjak dewasa. Ibu saya punya kebiasaan memanggil saya sejak kecil dengan sebutan… ehm… “ganteng.” Jika kita belum pernah bertatap wajah, jangan langsung membayangkan wajah George Clooney yang matang, jantan dan ganteng. Tidak perlu juga membayangkan penampilan Christian Sugiono yang bisa membuat banyak perempuan mabuk kepayang. Saya bahkan tidak masuk kategori KW3 mereka – saya mungkin lebih pas digambarkan sebagai perpaduan antara Danny de Vito dengan Yoda StarWars (tanpa warna kulit hijau tentunya, kecuali saat kena diare). Apakah Ibu saya salah memanggil saya dengan sebutan “ganteng”? Bisa jadi – tergantung menurut siapa. Apakah Ibu saya obyektif? Sudah pasti tidak dan itu tidak masalah. Coba perhatikan panggilan ibu-ibu pada anak-anak mereka. Tidak ada yang obyektif. Belakangan istri saya @yamunaa juga memanggil anak laki-laki kami dengan sebutan sama: “ganteng.”

Obyektivitas dalam tahun politik, terlebih menjelang pemilu presiden tanggal 9 Juli 2014 senantiasa jadi pembahasan pelik. Tuduhan tidak obyektif ditujukan pada media, organisasi, individu – semua! Bahkan yang memilih untuk tidak bersuara juga tidak luput dari tuduhan serupa. Saya sudah menentukan pilihan pribadi untuk calon presiden – sebuah pilihan yang kerap dipertanyakan oleh beberapa teman di twitter. Kenapa seorang penulis harus berat sebelah? Bukankah lebih baik menyimpan pilihan dalam hati untuk menjaga obyektivitas di masyarakat? Bagaimana menurut anda?

There is no objectivity; there is only a perception of objectivity. Anda tidak obyektif. Saya tidak obyektif. Tidak ada yang obyektif di kolong langit selain persepsi soal obyektifitas itu sendiri. Apapun yang anda yakini dan percayai adalah refleksi dari keluarga, lingkungan, pendidikan, suku, lingkup pertemanan, perjalanan – dan seluruh rangkaian hidup yang telah anda lalui. Sebagian dari keyakinan tersebut anda pilih sendiri – seperti pilihan orientasi politik dan presiden. Sebagian lagi bahkan diluar kendali kita – seperti agama / keyakinan orang tua dan cita rasa tertentu yang menjadi pilhan lidah.

We can never be objective, but we can always be sympathetic and even emphatic. Obyektivitas senantiasa dibatasi oleh persepsi. Cara terbaik untuk mengasahnya adalah dengan memperluas persepsi melalui dialog, interaksi dan observasi. Ini alasan paling masuk akal kenapa iklim demokrasi dan keterbukaan secara lambat laun akan mematangkan proses berpikir kolektif sebuah bangsa. Obyektifitas tidak perlu jadi masalah besar selama masih ada kepedulian & empati. Dan kedua hal ini adalah persepsi yang terbentuk dari keberagaman, bukan keseragaman.

It’s always tough to think beyond conditioning – that we created. Kembali ke soal pilpres, tidak seorangpun bisa 100% obyektif. Siapapun yang sudah (cenderung) memilih satu kandidat akan lebih mudah melihat kelebihan kandidat pilihannya dibandingkan kandidat lawan. Dan sebaliknya. Bagaimana dengan yang belum menentukan pilihan? Merekapun tidak bisa obyektif sepenuhnya karena senantiasa dibatasi oleh persepsi yang telah terbentuk. Dengan kata lain, mereka obyektif untuk kepentingan sendiri karena tidak memilih adalah pilihan paling tidak beresiko, sekaligus paling tidak bermanfaat 

Prinsip mudah yang bisa saya tawarkan adalah ini: Anda bela jagoan anda. Saya bela jagoan saya. Kita lawan, bukan musuh. Lawan membantu proses pematangan berpikir dengan menawarkan cara pandang yang berbeda. Tidak ada permainan yang bisa dimainkan dengan asyik tanpa lawan. Musuh dalam proses ini adalah ketidakpedulian, kebodohan dan kemiskinan – mereka harus diberantas.

Percayalah, bangsa yang besar tidak didasari oleh obyektivitas manusianya, namun oleh kemauan, keyakinan dan kegigihan untuk menjunjung tinggi keberagaman berpikir, bertatacara, berpakaian dan bertindak. Stop asking for objectivity, my friends. There is none. Be honest, make your choice and move on. This is how we evolve towards something better (hopefully).

Kami ingin tahu pendapat teman-teman, bisa colek kami di @ImpactFactoryID 🙂