Ekspresikan Diri untuk Negeri #Showtime #Guruku

June 29, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Baru baru ini, bekerja sama dengan Yayasan G83, Impact Factory mengadakan pelatihan bagi guru SMP. Ini merupakan langkah pertama dari sekitar 70an guru SMP yang akan dilatih hingga penghujung tahun 2014. Apa yang dilatih? Kemampuan untuk secara otentik mengekspresikan diri mereka. Kami di Impact Factory menyebutnya sebagai #Showtime.

#Showtime penting, karena ekspresi diri adalah keotentikan yang diberitakan kepada orang lain – tentang kita, tentang topik yang kita sukai, tentang makna yang ingin kita sampaikan, dan dengan cara yang benar-benar menunjukkan jati diri kita.

Otentik menjadi penting, karena hubungan baik hanya akan terbina ketika kepercayaan sudah ada. Dan kepercayaan hanya menjadi keniscayaan ketika otentik kerap diwartakan. Dengan kata lain, #Showtime mengajarkan kita untuk membangun trustworthiness.

Coba kita tanya diri kita sendiri, mending ngobrol basa-basi selama 1 jam, atau bicara mendalam tentang topik tertentu selama 1 jam? Tentunya sebelum kita memilih, kita akan bertanya, dengan siapa? Siapa yang kita pilih, adalah yang kita percaya. Dan kalau kita sudah percaya, kita malas bicara basa basi. Kita ingin bicara hal-hal yang penting bagi kita.

Begitu otentik menjadi kebiasaan, dengan sendirinya kita akan dilingkupi dengan orang yang kita percaya, dan yang mempercayai kita. Akibatnya tidak main-main, inilah awal sinergi. Inilah inner circle yang bisa menjadi kekuatan yang sangat memudahkan kita menggapai cita. Karenanya otentik membuat kita kian berdaya.

Bagaimana #Showtime diajarkan? Dengan meminta para guru SMP tersebut mencari ‘meaningful moment’ dalam hidupnya. Sesuatu yang senantiasa dikenang karena makna yang ditimbulkan dari ‘meaningful moment’ tersebut. Cara menceritakan ‘meaningful moment’ juga dilatih dalam #Showtime. Pertama, kita perlu mencari relevant audience. Setelah itu, cara kita bercerita, perlu distrukturkan. Diawali dengan sesuatu yang relevan, diceritakan dengan alur yang tepat, dan diakhiri dengan sesuatu yang membuat pendengar mengingatnya cukup lama. Dan yang terpenting, dilatih secara verbal. Bukan saja ditulis, tapi dituturkan berulang-ulang.

#Showtime pada akhirnya merupakan gaya hidup. Ia berlaku semenjak kita bangun tidur, hingga tidur lagi di akhir hari. #Showtime adalah cara kita mengekpresikan kita, seotentik mungkin. Hanya dengan begitu, kita kian menjadi kita yang sejati.

Begitu guru-guru SMP tersebut mahir ber #Showtime, maka murid-muridnya akan melihat keteladanan: bahwa menjadi diri sendiri itu penting, mudah, dan keren. Ketika murid-murid beranjak dewasa dan mereka terbiasa menjadi diri mereka sendiri, maka Indonesia akan menjadi lebih baik.

Tidak perlu menjadi Guru untuk ber#Showtime. Setiap kita adalah Guru. Kata Guru sendiri, mengacu pada Murray, Thomas R. Moral Development Theories – Secular and Religious: A Comparative Study. (1997). halaman. 231. Greenwood Press, terdiri dari dua kata sansekerta Gu & Ru. Gu berarti ‘darkness’ dan Ru berarti ‘cahaya’, sehingga kedua kata tersebut jika disatukan berarti Cahaya yang menerangi kegelapan.

Gelap itu senantiasa hadir bagi mereka yang tidak menggunakan Cahaya yang dititipkan. Saya percaya bahwa setiap kita, dititipi oleh percikan CahayaNYA. Bahasa kerennya, Passion & Purpose – kesukaan yang terbukti melalui hasil karya yang bermanfaat bagi orang lain. Ya, menerangi diri adalah awal segalanya, sebelum kita menerangi orang lain. Cahaya yang dititipkan itu merupakan Guru Sejati yang telah disematkan pada kita semenjak kita diutus ke dunia.

Dengan #Showtime, kita kian terbiasa menjadi kita, membawakan percikan Cahaya yang dititipkan, sehingga terang jalan kita, dan dengan izinNya, menerangi jalan orang lain.
Semoga!