The Luckiest People are People Who Needs Other People

June 18, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Setelah mengikuti konferensi kreatif @C2MTL saya lanjut mengunjungi New York, Washington DC dan Baltimore untuk jalan-jalan sekaligus menemui beberapa sahabat lama yang sekarang tinggal disana. Kita boleh punya opini beragam soal negeri Paman Sam ini namun satu hal yang harus diakui, mereka sudah melalui perjalanan panjang untuk menjadi sebuah bangsa yang matang. Saya sengaja pilih perjalanan darat dengan sedapat mungkin menggunakan sarana transportasi umum agar bisa berjumpa dan berinteraksi dengan banyak orang. Hasilnya? Paling tidak selusin obrolan keren dengan berbagai macam orang yang melakoni berbagai jenis profesi. Ada supir asal Harlem (sebuah distrik di New York) yang sudah membawa taksi sejak 40 tahun lalu. Penjaga museum baru 911 yang juga keturunan imigran Lebanon. Pelayan toko kue Ferrara yang baru 2 tahun tinggal di New York setelah pindah dari negara asalnya Puerto Rico. Host Airbnb yang baru saja beralih dari pekerja kantoran – dia berasal dari Spanyol. Sesama pejalan kaki di Bethesda yang juga veteran perang Vietnam. Pemilik restoran Cina yang merupakan generasi ke3 emigran dari Tiongkok. Dan seterusnya.

Mereka semua punya keluhan soal hidup dan kehidupan mereka di Amerika Serikat, sebagian mengeluh lebih banyak dari yang lain. Namun menariknya mereka tetap memilih untuk tinggal, bekerja dan meniti kehidupan disana. Awalnya saya pikir karena alasan kemudahan memperoleh nafkah – tapi belakangan saya mendapati alasan utama mereka memilih menetap di AS karena penghargaan atas hak-hak individu dan daya tarik hidup penuh keberagaman. Tidak mengherankan karena wajah kota-kota besar AS (terutama yang terletak di pantai timur dan pantai barat) sudah menjelma jadi refleksi kehidupan masyarakat global. Hal ini tergambar dalam mudahnya mie pangsit, sup tom yum, makanan Etiophia hingga soto, sate dan mie instan merek Indonesia disana – sebagaimana burger, steak dan sandwhich. Sebagai gambaran kota New York dengan 24 juta penduduk berbicara dalam 800 bahasa dan dialek – angka ini 5x lebih banyak dari jumlah negara di dunia.

You always need other people to grow – always. Siapapun selalu butuh orang lain. Tidak ada satupun usaha yang bakal tumbuh kembang jika dijalankan sendirian. Tidak ada juara dalam permainan jika tidak ada lawan main yang bersedia ikut bertanding. Tidak ada satupun cerita sukses tanpa melibatkan orang lain. Ini fakta. Ini nyata.

Creativity stems from diversity – different people with different point of view. Karya dan kreasi terbaik adalah buah pikiran, percakapan dan interaksi dari berbagai orang yang punya berbagai pandangan berbeda. Tidak banyak kreativitas yang bisa muncul dari banyak orang dengan pandangan serupa. Dan pandangan serupa adalah produk dari keseragaman cara berpikir, cara bekerja, cara berpakaian, cara beropini dan cara mendidik diri.

Accept & embrace differences for our better – and much more fun future. Kembali ke tanah air saya pikir tulisan ini bisa bermanfaat sebagai colekan ringan bersahabat menjelang pemilu Presiden – Wapres tanggal 9 Juli 2014. Perbedaan pilihan tidak perlu menjadikan kita musuh karena terlalu banyak yang harus dibicarakan, dikerjakan dan dilaksanakan bersama sebagai bangsa yang matang.

Tahun 1945 Indonesia lahir dari ide-ide dan gagasan-gagasan dari sekelompok orang dengan latar belakang & cara pikir yang sangat berbeda satu sama lain. Tahun ini , 2014, Indonesia menjelma jadi negara terbesar ke 4 dalam populasi dan salah satu dari 15 negara terbesar di dunia dalam hal GDP. Sebuah pencapaian luar biasa yang wajib disyukuri, dikelola dan dikembangkan. Dan tidak ada cara lebih baik dalam melakukannya kecuali melalui usaha, upaya bersama dalam keberagamanan. Tulisan ini saya tutup dengan mengutip celoteh sang supir taksi legendaris dari New York: “The luckiest people are people who needs other people – even if they are the opponents.”

Bagaimana menurut anda? 1