Too Many Minds, Too Little Time

May 23, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Senin pagi. Apa yang anda bayangkan saat mendengar dua kata ini? Boleh saya tebak? Bangun lebih pagi dari biasanya untuk mengantisipasi macet, terutama bagi yang tinggal di sekililing Jakarta tapi bekerja di tengah kota. Masuk kantor buka laptop mendapati belasan atau bahkan puluhan email baru yang butuh perhatian. Sebelum sempat membuka 5 email pertama, sudah ada panggilan untuk Monday briefing. Dalam perjalanan menuju ruang meeting sudah ada beberapa PING di BB atau WhatsApp. Saat melihat handphone langsung teringat lupa posting pesan di twitter atau path untuk mewartakan ke dunia anda masih ada. Dalam meeting anda perhatikan semua sibuk dengan handphone dan laptop masing-masing, sekedar mengikuti contoh dari si boss yang selalu terpaku dengan layar tabletnya dengan sesekali melihat ke kanan kiri tanpa terlalu peduli. Meeting selalu berlangsung lebih lama dari rencana dengan kata penutup yang selalu serupa: Do your job. Meet your target. Saat makan siang disantap sekenanya, terkadang muncul suara kecil dalam kepala: “Ngapain ya saya disini?” atau “Kalau saja saya punya hidup berbeda… bukan sekarang saya jalani.” Pada titik itu ada perasaan lelah, galau dan mungkin frustasi bahkan depresi. Tidak ada alasan lain bekerja selain gaji.

Dalam kondisi seperti ini, respon yang paling lazim adalah mencari cara untuk mengelola waktu lebih baik. It’s all about time management. Sebagian merasa jalan keluar adalah dengan membagi waktu seperti memotong kue ulang tahun dengan plot-plot yang jelas untuk pekerjaan, istirahat, olah raga, keluarga dan seterusnya. Pernah coba solusi macam ini? Saya jamin hasilnya nol besar. Pembagian waktu hanya efektif dalam 1 minggu pertama, selebihnya sudah morat-marit. Terlebih dalam era social media seperti sekarang terlalu banyak asupan informasi yang diterima.

The problem is not the lack of time, but it’s about the lack of focus. Siapa yang memutuskan untuk punya email, FB, twitter, path, WhatsApp, BBM, instagram dan lain-lain pada saat kita belum bisa memahami dan memaknai kegunaannya masing-masing untuk kehidupan anda? Pada saat yang sama, apakah anda sudah paham peran dalam pekerjaan, karier dan kehidupan?

There is always more to do than there is time to do it. Siapa yang harus menentukan fokus kehidupan anda? Sudah pasti jawaban idealnya ya… diri sendiri. Kecuali memang jika mau menjalani hidup sepenuhnya sesuai anjuran orang lain. Jika demikian anda robot yang tidak berhak merasakan lelah, bosan dan galau. Manusia robot boleh berhenti membaca sekarang 😉

What matters for me now may not matter for me later. Bagaimana menetapkan prioritas yang harus difokuskan? Nah ini lebih sulit. Jawabannya tergantung jangkauan horizon kehidupan yang anda bidik. Monday meeting penting banget jika jangkauan horizon kehidupan yang anda bidik hanya 1 minggu, 1 bulan atau hingga evaluasi kinerja berikut. Pada horizon kehidupan lebih panjang, Monday meeting bisa jadi tidak relevan. Hal yang sama berlaku dalam pemilihan jenis pekerjaan yang anda ambil, uang, pangkat, jabatan dan beragam bentuk lambang-lambang kekayaan dan kejayaan yang anda pikir penting saat ini.

Tidak semua harus dikerjakan. Tidak semua harus diputuskan sekarang. Tidak semua harus dipilih “ya.” Tidak semua meeting harus dihadiri. Tidak semua kesempatan harus diambil. Tidak semua ajakan makan malam harus dihadiri. Tidak semua email harus dijawab. Tidak segala hal harus ditwit. Waktu adalah relatif. Karya terbaik adalah buah ketekunan, kesabaran dan kejujuran pada fokus diri (baca: passion & mission). You can do anything, not everything – David Allen.