The Medium of Your Message is the People

May 23, 2014 | RENE

SCROLL TO READ

Saya dikenal sangat baik oleh orang penting itu sehingga nama saya disebut dua kali: “Rene Suhardono? Siapa itu Rene Suhardono?” – dua kali tapi bukan karena dikenal, justru sebaliknya, tidak dikenal sama sekali atau mungkin sudah dilupakan. Cerita ini kerap kali saya sampaikan dalam banyak kesempatan untuk memberi gambaran kekuatan jalinan pertemanan (baca: networking) yang dibangun oleh hubungan baik. Saya lebih suka menggunakan kata jalinan pertemanan, bukan “jaringan” karena lebih menggambarkan intisari kata networking. Jalinan pertemanan terbentuk dari anyaman kepedulian, rajutan kebersamaan dan ikatan kepentingan. Disana ada imbal balik dua arah, bukan sekedar numpang lewat, kenal atau tahu. Bukan soal siapa yang kita kenal, tapi jauh lebih penting dari itu, siapa yang kenal kita – dan bagaimana kita dikenal.

Saya percaya pentingnya networking sudah banyak dipahami oleh banyak orang. Namun persoalan muncul saat harus menjawab pertanyaan ini: Bagaimana membangun jalinan pertemanan yang awet, kokoh dan saling menguntungkan? Apakah cukup sekedar menjadi kolektor kartu nama? Atau mungkin punya ribuan database nama orang di cellphone? Atau jangan-jangan ini soal kepiawaian mengelola media sosial seperti facebook, twiter, WhatsApp, LinkedIn dan beragam bentuk lainnya? Bagaimana anda mengelola network anda? Apakah networking yang anda bina sudah berkontribusi dalam proses tumbuh kembang anda dalam kehidupan pribadi, karier dan bisnis? Atau mungkin justru seringkali muncul pertanyaan kenapa dia – bukan saya – yang dikenal banyak orang, sebagian bahkan orang-orang penting. Apa istimewanya dia? Dan… apa tidak istimewanya anda?

Networking = Connection economy. Semua aspek kehidupan terlebih pada abad 21, tanpa kecuali bergerak dan digerakkan oleh segelintir orang. Mereka tidak menggantungkan diri pada keberuntungan. Mereka bukan orang-orang yang terlahir dengan bakat membangun network. Mereka bisa jadi memperoleh manfaat awal keluarga, sistem pendidikan dan negara atau kota tempat mereka berasal. Namun satu hal yang pasti, mereka adalah individu-individu yang secara sadar, gigih dan tekun – terus menerus berstrategi, bertindak dan bergerak aktif dalam menentukan siapa saja yang ada disekeliling mereka dan bagaimana hubungan mereka terbina. Jadi harus bagaimana?

Rule no. 1: Speak up clearly & ask what matters. Kendala utama membangun network adalah kejernihan pikiran dalam menyuarakan cerita, pendapat dan pertanyaan. Kejernihan berpikir berawal dari kejujuran merasakan. Awam merasakan artinya awam terhadap rasa ingin tahu – dan awam terhadap kepedulian diri. Sementara pertanyaan hampir selalu dianggap sebagai tanda kelemahan – atau indikasi cari perhatian. Pendapat ini salah total! Berani bertanya membuka peluang tahu lebih banyak dengan lebih cepat.

Rule no. 2: Reach out for new people out of curiosity. Terlalu sempit jika waktu hanya dihabiskan oleh orang-orang satu almamater, satu perusahaan, satu bidang keahlian, satu industri. Buat rencana untuk mengenal (dan dikenal) oleh orang-orang baru dengan latar belakang berbeda. Jika menargetkan 1 orang baru setiap minggu maka dalam setahun akan ada 52 kenalan baru dalam hidup anda.

Rule number 3: Networking is about generosity. Jalinan pertemanan bukan sekedar soal transaksi. Tidak hanya mengenai anda butuh apa, saya butuh apa. Jika semangat pertemanan dibangun atas dasar kepedulian, maka masing-masing individu akan berperan dalam pemenuhan misi hidup setiap individu yang ada dalam network tersebut.

Tidak ada satu orangpun yang bisa mencapai apapun tanpa dukungan, pertolongan dan dorongan orang-orang lain. Kesabaran, ketekunan dan kegigihan membangun network akan berbanding lurus dengan proses tumbuh kembang diri. Semua berawal dari senyuman yang anda berikan pada orang pertama di pagi hari dan orang-orang berikutnya. The only currency for relationship is sincerity.